Kamis, 11 September 2008

So embarrassing

Kuncung : Wuk peralatan atau mesin apa yang saat ini paling dibutuhkan oleh Republik ini ?

Bawuk : Wah apa yaaa..?, apa bukan mesin pencari deposit minyak bumi ?

Kuncung : Bukan Wuk, juga bukan traktor bukan mesin pembuat uang. Tidak lain tidak bukan adalah ”Lie detector” alias alat deteksi kebohongan.
Bukan yang seperti Lie detector yang model sekarang, tapi yang benar benar andal, sedemikian andal sehingga dapat merekam memori, dan keinginan didalam pikiran manusia.
Manusia sudah bisa buat mesin kebulan, bisa buat alat kedokteran canggih seperti MRI, bisa meneliti bahwa jenasah di kebun belakang rumah Ryan adalah jenasah Asrori, tapi mosok mbuat ”lie detector” yang ampuh kok belum bisa yaa.

Bawuk : Laah bakal apaan Lie Detector yang canggih ?

Kuncung : Gini ya, saya sudah bosan ngeliat pejabat pejabat, baik executive, legislative dan judicative yang diduga, disangka, diperiksa, didakwa, diadili karena korupsi, tapi toh penjara kita masih sedikit berisi narapidana kasus korupsi. Dan saya yakin deh banyak lagi kasus kasus yang tidak terungkap.Belum lagi masalah blue energy atau super toy.

Bawuk : terus gimana maksudnya ?

Kuncung : Ya kalau sudah ada Lie Detector yang huebat maka semua maling, penjahat, koruptor kan akan cepat terproses, bahkan sebelum bertindak kejahatan, karena alat tersebut bisa “membaca” pikiran kita.

Bawuk : waaah hebat, bener juga pendapatmu Cung. Saya jadi inget filmnya Arnold Swarzeneger Total Recall, orang bisa di ‘scan’ isi otaknya, dan itu sepertinya mungkan mungkin saja ya suatu saat.

Kuncung : yaaa, bener kan seandainya saja kita bisa bikin alat tersebut, maka angka korupsi di negeri ini akan zero deh nggak so embarrassing seperti sekarang ini. Tiap hari di Koran isinya orang saling bantah dan saling tuduh untuk hal hal yang sangat memuakkan sementara orangnya nggak mau ngaku.



Rabu, 10 September 2008

So vary

Ada seorang pemimpin Parpol di Indonesia bilang “hidup adalah perbuatan..” jadi menurutnya ciri ciri kehidupan adalah kalau ada perbuatan (bener nggak ya .. maksud dia seperti itu).

Kalau saya agak beda, saat ini menurut saya ; “Hidup adalah perubahan”, setiap detik dari kehidupan kita adalah perubahan (paling tidak ada beberapa ribu sel kita mati atau tumbuh, dan juga seiring usia kita berubah, detik demi detik, menit ke menit dst). Di alam kematian “sepertinya” tidak ada perubahan yang saya sebutkan tadi.

Forrest Gump (dalam film Forrest Gump) berkata :” life is like a box of chocolate …. You never know what‘s in it”. Variasi dalam kehidupan terus berjalan, baik yang tertata, terprediksi atapun tidak (surprise). Variasi (baca ‘perubahan’) dalam hidup sangat luas, dan terjadi pada setiap peran yang kita lakoni dalam kehidupan ini (peran di keluarga, di lingkungan, di kantor , dan lain lain).

Saya baru saja mengalaminya, pindah/berubah dari suatu posisi pekerjaan dan tanggung jawab, berubah dari disiplin pengetahuan yang saya miliki, dari eksekutor menjadi kontroler ;…so many surprising things come up to my mind in sudden , tapi saya bersyukur padaNya dengan nikmat variasi yang diberikan kepada saya, hal hal baru didalam hidup kita akan membuat kita lebih “hidup”.

Hidup adalah perubahan, hidup adalah konsekwensi bahwa kita tidak berpredikat mati dan pada akhirnya….
Hidup adalah pengendalian diri , bagaimana kita menjaga untuk dapat mencapai tujuan agar dapat mati dalm keadaan khusnul chotimah.

Selasa, 09 September 2008

So Full

Pernah mudik Lebaran? Saya memang kebetulan belum pernah, hanya saja setiap tahun (khususnya di bulan Ramadhan dan Syawal), hal inilah yang menjadi ’bahan cerita’ kalau sedang berbincang dengan sanak saudara dan kerabat.

Tahun 2008 ini menurut pak Polisi, para Mudiker’s mencapai jumlah 16 juta orang di seluruh Indonesia yang berarti kenaikan sebesar 6 % an, nggak tahu gimana caranya menghitung tapi saya duga sebagian besar tentunya akan ke daerah daerah di pulau Jawa. Jalur transportasi yang paling populer tentu saja jalur Pantai Utara Jawa yang selalu saja menjadi topik setiap saat di seluruh jejaring informasi.
Dari data yang ada ternyata untuk DKI Jakarta saja sekarang ini tercatat ada 5,5 juta kendaraan bermotor yang merupakan kenaikan sebesar 300 % selama 4 tahun terakhir. Yang cukup menjadi perhatian dan keprihatinan kita semua adalah bahwa transportasi darat di jalur pantura, di beberapa tahun terakhir ini sangat disesaki oleh sepeda motor. Padahal kita tahu bahwa sepeda motor adalah alat transportasi perkotaan dan tidak disiapkan untuk menjadi alat angkut antar kota apalagi antar propinsi (kayak bis aja ya..), dan sedihnya 90 % kecelakaan di jalan raya pasti melibatkan sepeda motor..
Lantas mudik sebenarnya untuk apa/siapa yaa ?.


Setiap tahun selalu kita menyaksikan drama mengenai para mudiker’s di Televisi atau media lainnya. Beberapa teman saya selalu bilang ”. ..tentu saja kamu tidak pernah sih merasakan perlunya mudik (dan nikmatnya barangkali)...”.Wah sory memang belum pernah, tapi saya membayangkan para keluarga (Bapak Ibu dan anak anaknya) yang dengan effort luar biasa atas nama tradisi melakukan mudik, apakah sang Bapak atau Ibu pernah bertanya kepada anak anaknya pilihan untuk tidak ikut mudik ?. Jawaban anak anak bisa saja ”ogah aaah, macet, nggak enak, cape, bosen gitu gitu aja.. ”.terus ditambah lagi: ” paling paling Bapak/Ibu akan bercerita ...dulu waktu Bapak /Ibu kecil sekolahnya disitu ... dekat kantor kelurahan anu... kalau makan sering ke warung soto di pinggir kantor pos itu atau dulu kalau mancing di kali itu... dekat sana ada rumahnya pak Anu yang sekarang sudah jadi kepala desa Anu”, weleh bukannya ini sejenis egoisme orang tua !!, apalagi kalau si ortu senangnya pamer kepada warga ’udik’ tentang keberhasilannya di’kota’.
Lantas dimana hak anak untuk memilih pergi mudik atau nggak.
Tapi sudahlah nggak perlu dibantah bahwa tradisi tersebut ada, hanya saja yang selalu menjadi kekesalan adalah bahwa KESIAPAN Pemerintah didalam menyiapkan sarana dan prasarana mudik tidak pernah sempurna, kurang pengalaman apa sih wong selama berpuluh tahun tradisi ini telah ada. Selalu saja ada istilah ”kesiapan operasional di H-7 , H-3 , H+2” dan seterusnya .

Jembatan belum rampung, jalan masih bolong, gerbong kereta nggak cukup, calo karcis menggila, hal hal yang selalu saja terjadi, nggak pernahkah kita bisa merencanakan dengan baik ? (nilai 7 lah paling tidak).Ini benar benar menjadi strereotype ciri bangsa kita juga lho.
Hal lain yang saya pikir adalah bahwa (ini juga ciri bangsa ini), kemanapun bangsa ini pergi, pasti akan kembali lagi kekampung halamannya (rindu sanak saudara tidak bisa digantikan dengan chatting di internet atau kirim MMS).

Akan tetapi mudik bisa memutar ekonomi kita lebih baik (benar benar sektor riil). Coba bayangin kalau 16 juta orang menghabiskan : misalkan rata rata Rp. 100 ribu/ orang pada masa mudik lebaran, berarti Rp 1,6 trilliun rupiah beredar pada saat itu, bukan main kan. Wah pihak mana ya yang mendulang keuntungan dari Mudik ini, sektor transportasikah ? atau retail lainnya?.


OK selamat Mudik saudara sekalian, hati hati dijalan.


Jumat, 05 September 2008

So Proud, Alhamdulillah

Setelah berkutat selama beberapa tahun, akhirnya pecah juga rasa syukur yang dalam setelah selesainya Acara Promosi Gelar Doktor dalam bidang Kedokteran Gigi untuk istri saya pada tanggal 31 Juli 2008 yang lalu.
Begitu banyak waktu, tenaga, pikiran dan materi yang dicurahkan untuk mencapai salah satu “milestone” dalam kehidupan ini.
Disertasinya “ Pengaruh paparan musik terhadap pertumbuhan gigi dan mandibula (tulang rahang)” cukup nyleneh (menurut saya) untuk dapat diperhatikan (salah satunya dapat dilihat di
website ini).

Kita banyak tahu bahwa paparan musik dapat berpengaruh pada kondisi psikis mahluk hidup sejak bayi dalam kandungan atau untuk memberi ketenangan jiwa atau kecerdasan, nah kalau penelitian yang ini pengaruhnya terjadi pada kondisi fisik (khususnya pertumbuhan jaringan keras), kok bisa yaa?

Alhamdulillah, I’m proud of you.
Mudah mudahan hasil penelitiannya dapat bermanfaat di kehidupan manusia.



Kamis, 04 September 2008

So Sad

Posting ini sebenarnya agak terlambat, .. tapi nggak apa lah


Tanggal 30 Juli 2008 pasti akan menjadi catatan tersendiri untuk anak saya, sekolah nya terbakar pada hari itu.
SD Negeri Percontohan Kompleks IKIP Rawamangun Jakarta Timur dilalap api. Beruntung pada saat kejadian (sekitar jam 13 an) sekolah sedang libur sehingga tidak terjadi korban.
Kegiatan belajar mengajar tentu saja terganggu, sementara waktu sekolah dipindahkan kebeberapa sekolah negeri yang berada disekitar wilayah tersebut, tapi tentu saja jam sekolahnya jadi siang hari karena pagi harinya digunakan oleh sekolah yang menampung ( Sekolah tuan rumahnya). Dampak sosiologis, psikologis dan tentunya akademis sangat terasa (karena berpindah tempat, trauma kebakaran, dan berkurangnya jam pelajaran).

SD Negeri tersebut berada satu kompleks dengan SMP dan SMU Labschool yang berada dibawah naungan Yayasan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rawamangun bahkan bangunannyapun menyatu dengan Bangunan SMP Labschool. Seperti juga bangunan SMP nya, gedung SD ini berlantai tiga dan yang terbakar adalah lantai tiganya (utamanya atapnya), sedangkan lantai satu dan duanya tidak mengalami kerusakan apapun yang berarti.

Api bermula dari suatu ledakan dan kebakaran di Gedung Aula Besar milik UNJ yang juga bangunan yang menjadi satu dengan Sekolah, yang ironis adalah api kebakaran terjadi pada acara demo suatu perangkat anti ledakan pada tangki bahan bakar sepeda motor , nah sebelum demo dimulai malah sepeda motornya yang meledak. Nggak usah ditebak lagi, yang salah pasti unsur manusianya.

Ada beberapa catatan kecil mengenai musibah ini;

Ada sebuah Masjid yang berada di ‘lintasan’ api tetapi sama sekali tidak mengalami kerusakan apapun, bahkan kubahnya pun tatap berwarna putih tanpa jelaga sedikitpun (api seolah menyebranginya).

Penanganan pasca kebakaran di SMP Labschool (swasta) lebih cepat dilakukan dari pada yang di SD Negeri dan juga peran serta seluruh civitas sangat terlihat pada penanganan pasca kebakaran di SMP tersebut.

Penanganan pasca kebakaran tentu saja diawali dari pemeriksaan kelayakan bangunan sebagai dasar apakah sekolah ini masih layak guna dan juga tindak rehabilitasi apa yang diperlukan. Syukur Alhamdulillah dalam hal penelitian ini, ada seorang sahabat saya Bapak Dicky R Munaf yang dengan tanpa pamrih apapun membantu kami dengan kapasitas beliau sebagai seorang ahli struktur dari ITB bersama tim nya (Bapak Ramdhana dan teman teman) melakukan penelitian tersebut. Hasilnya .. masih layak guna dan dapat direhabilitasi dengan beberapa rekomendasi. Terima kasih Pak Dicky atas bantuannya.



Beberapa rekaman gambar :


Tempat bermulanya api di Gedung Teater Besar




Gedung SD berlantai tiga yang habis atapnya





Ruangan kelas di lantai tiga




Anak saya berada diantara reruntuhan



Ruangan Aula di lantai tiga



Pak Ramdhana dari ITB bersama rekan rekan sedang memeriksa lantai tiga



Bangunan Masjid yang tidak tersentuh api di sebelah Teater Besar



Bangunan Masjid dari sudut pandang lain di lantai tiga





Mandeg

Terus terang seperti lagunya The Beatles, it’s been a hard days night.. and I’ve been working like a dog.

Dan seterusnya, karena long and hard days and nights so that I’am not blogging for quite long time. I had only little time left to look after my Blog and mails.

Banyak aja alesannya, kerjaan lah, ngurus rumah lah, pindah kerjaan lah dan yang terutama tentu saja memback up kebutuhan anak anak untuk bersama. Just give me a break.


Minggu, 20 Juli 2008

Jaga Jarak

Beberapa waktu yang lalu saya sempat (ehh ..”menyempatkan”) diri melihat pameran Automotive 2008 di JHCC. Wah… tumben, dengan tanda masuk yang di banderol tigapuluh ribu rupiah sekedar lihat keliling kanan kiri (yang pasti gak akan mbeli!!), cukup sudah terpuaskan mata saya dengan melihat mobil mobil dengan harga jutaan sampai miliar an.
Pulang dari pameran, jalan macet penuh kendaraan as always like that, kebayang aja meskipun dengan mobil ribuan cc yang mahal tetap saja jalannya merambat seperti uler keket.
Pikiran saya melayang ke tahun 2038, yaaa.. tigapuluh tahun dari sekarang, I was wondering .bagaimana suasana jalan di Jakarta ini.
Apakah jalan makin padat (stuck) atau mungkin malah kosong melompong dan hanya orang yang sangat berpunya yang menggunakan kendaran pribadi ?.
Minyak harganya sudah U$ 900/barrel ? atau premium sudah Rp 25.000/liter.I am wondering .. juga bagaimana kebijakan pemerintah tentang energi dan transportasi ditahun itu (lha wong di tahun sekarang saja ndak jelas, meskipun tentu saja kita sadari bahwa pola perilaku masyarakat juga ikut andil adanya krisis energi di negeri ini).

(calon penghuni jalan kita), wah warna putih masih favorit juga rupanya.


Nah pas keesokan harinya, saya melihat dipojok depan rumah saya terjuntai daun dan buah dari pohon jarak pagar. Bukan secara kebetulan, tetapi menurut saya ini (pohon jarak pagar), bisa menjadi pohon andalan dimasa mendatang sebagai alternatif bahan bakar.
Minyak yang dihasilkan dari biji jarak lebih kurang 25 % dari berat bijinya, dan biji jarak ini sudah digunakan sejak puluhan tahun oleh kakek dan buyut kita untuk penerangan di desa.

Ada yang belum pernah melihat buah dan biji jarak pagar ?


Ayo jaga jarak dan dibudidayakan, siapa tahu menghasilkan . Brazil saja bisa sukses dengan tebu dan methanolnya.








Minggu, 06 Juli 2008

Food VS Food

Usaha apa di Indonesia yang nggak ada matinya ?...
Makanan bung .. usaha makanan nggak pernah ada matinya (paling tidak berisiko lebih kecil deh).
Coba lihat saat kapan orang Indonesia nggak makan (atau minum tentunya) ?. hampir nggak ada, karena tiap jam adalah jam makan.
Mulai pagi sampai pagi lagi, sebut saja jam berapa; warung makan, kaki lima, dan restoran nggak pernah sepi, mau jam kerja atau jam istirahat. Karena memang kultur kita tidak mengenal jam makan seperti misalnya orang dari belahan dunia Barat. Disana kita jarang mendapatkan restoran atau tempat makan yang penuh pada jam 9 sampai jam 11 siang atau jam 15 sampai jam 17.
Pokoke tidak ada jam yang nggak cocok untuk makan makanan apapun di Indonesia.
Nah, jadi kalau mau mulai ber usaha, cobalah untuk berbisnis makanan.
Lantas makanan apa yang paling diminati ?.ternyata konon ranking tertinggi adalah makanan berbahan Mie (mie baso, mie goreng dsb) dan kemudian makanan cepat saji model Barat (sejenis burger, hot dog dsb).
Saya punya teman di kantor yang bisa menjadi inspirator untuk memulai berusaha makanan.Teman saya yang hebat ini (Cak Eko) bukan hanya punya Franchise (Baso, Soto dan Bebek goreng), dia juga sudah menulis dua jilid buku mengenai ”bagaimana kiat memulai usaha sendiri”.
Saya juga mau nyoba untuk mulai usaha makanan aah.. Nah untuk percobaan saya membuat ayam panggang Klaten di sudut rumah saya disuatu siang.
Bahan dan caranya gak terlalu sulit sih; Seperti kita membuat opor ayam, hanya saja santannya agak kental, dan setelah cukup berminyak, kemudian di bakar dengan arang.... muantaabs


ICT VS Media Transportasi


Seperti posting sebelumnya (mobile society), menurut saya ICT (Information & Communication Technology) akan semakin mendekati kondisi ultimate yang artinya manusia akan semakin connected setiap saat, sembarang tempat dan kemana saja.
POP (Point Of Presence) seseorang tidak harus tetap pada suatu lokasi, definisi tempat berkegiatan tidak harus selalu di kantor atau sekolah karena bisa saja dilakukan dari rumah atau bisa di mana saja.
Penetrasi pengguna internet sampai saat ini mencapai beberapa juta yang pastinya akan terus bertambah seiring (tentunya) dengan semakin menurunnya tarif koneksi internet di Indonesia, yang sekarang ini mungkin masih dikuasai ”persekutuan penyedia jasa koneksi internet”. Saya punya hipotesa bahwa apabila semakin tinggi penggunaan ICT maka akan semakin turunnya demand akan transportasi karena akan terjadi perubahan pola berkegiatan (ngantor, belanja atau sekolah dari rumah).
Coba saja kalau harga koneksi internet bisa murah dan cost of ownership kendaraan bermotor di naikkan maka bangsa ini akan semakin cepat pandai (karena ICT yang murah dapat merambah ke desa-desa) disamping itu lingkungan akan semakin baik karena pembakaran minyak bumi berkurang (demand transport berkurang, emisi gas buang berkurang dan jalan nggak macet).
Asal diketahui saja pernah ada yang bilang (di KOMPAS) bahwa kerugian akibat macet di DKI Jakarta tahun 2007 mencapai RP. 43 Triliun, dan bahwa kenaikan jumlah sepeda motor sebesar 2,4 kali (dalam kurun waktu 2000 – 2007) paralel dengan penurunan travel speed di jalan-jalan DKI
Kemungkinannya kecil atau besar ya bahwa pengembangan ICT bisa mengubah pola kita berkegiatan khususnya yang berkaitan dengan transport demand ?.. tergantung dari kemauan kita semua, coba perhatikan, tarif selular saja sekarang berlomba untuk turun (apakah sebetulnya karena tarif selular terdahulu terlalu mahal dan dikuasai kartel ya..?).Nah coba sekarang dan nantinya harga bahan bakar fosil makin tinggi sementara harga layanan ICT (kita harapkan) menurun apakah kita tidak mulai berpikir untuk mengubah pola berkegiatan ?.

Rabu, 25 Juni 2008

Nilai Positif Anda

Pernah berpikir seberapa baikkah value yang kita miliki untuk dapat menjadikan putra putri kita anak yang baik ?

Kondisi pertama; Kalau kita berpikir bahwa kita ”sudah cukup baik” dalam beberapa hal.
Cobalah catat dan analisis lah hal hal tersebut dengan cermat.
Misalkan bahwa kita ini bukan pemakai narkoba atau alkoholik, cobalah ditelisik bagaimana kita bisa seperti itu ?, apa yang menjadi peran dominan kondisi seperti itu; apa karena orang tua kita ?, atau karena pendidikan (moral/agama), karena lingkungan sosial lainnya ?, atau karena suatu pengalaman hidup lainnya (empiris) ?

Kondisi kedua ; Kalau kebetulan kita mempunyai (dan merasa) mempunyai “label buruk” pada diri kita untuk sesuatu hal.
Sama dengan kondisi pertama, coba telisik kenapa kita bisa sampai demikian.

Coba tangkap nuansa perjalanan hidup kita selama ini sejak kecil sampai sekarang ini, cari dan perhatikan pengaruh positif (atau negatif) apa yang dominan mempengaruhi kita sehingga menjadi ”baik atau buruk”.
Kemudian proyeksikan kedalam kerangka waktu sekarang untuk kondisi putra/putri anda (tentunya ada konversi konversi tertentu akibat perbedaan waktu tersebut). Apakah yang masih mereka butuhkan, dapatkah ”nuansa positif” dari catatan kita, dimasukkan kepada anak kita dan membuang ”nuansa negatif”.

Saya cukup yakin kalau kita mau jujur mengenai analisis dari catatan hidup kita, maka hal tersebut akan banyak berguna untuk menjadi referensi dalam mendidik, mengarahkan dan menghantarkan anak anak kita untuk menjadi manusia yang jauh lebih baik daripada kita.

Sabtu, 21 Juni 2008

Porong – Gempol

Awalnya seperti hal kecil saja, ada semburan gas, uap, air dan Lumpur panas.
Siapa yang nggak pernah dengar Lumpur Panas Lapindo, letaknya di desa Renokenongo, Kabupaten Sidoarjo. Lokasi tersebut berjarak mungkin sekitar 500 meter dari ruas jalan tol Surabaya Gempol lebih kurang di km 38.
Siapa sangka hal yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006 sampai sekarang belum berhenti.





Sudah banyak alasan mengenai penderitaan masyarakat, baik yang langsung maupun tidak langsung terkena dampak ”mud vulcano” ini. Saya kehilangan tiga rekan saya ketika terjadi ledakan akibat patahnya pipa gas yang terhampar di lokasi tersebut pada tanggal 22 November 2006.


Hal yang masih mengganjal salah satunya adalah ; berapa besarkah probabilitas bahwa semburan ini akan berhenti dalam kurun waktu tidak lama ?
Pertanyaan ini terkait sekali dengan penanganan/pengelolaan risiko dari segenap program program penanggulangan musibah ini.

Sebagai contoh adalah program relokasi prasarana perhubungan/transportasi seperti; jalur KA, arteri tol/bukan tol, khususnya di ruas antara Porong – Gempol.
Rencana alignment jalan tol, sepertinya sudah ada alternatif terpilihnya. Namun terakhir ini kita mendengar pula berita tentang adanya titik titik semburan baru yang jaraknya cukup dekat dengan alternatif alignment yang terpilih tadi.
Apa ada jaminan analisis yang cukup untuk menetapkan alternative alignment tersebut “aman” dari kemungkinan gempuran semburan Lumpur?, say, for the next 5 years, 10 years, or more ?

Padahal perkerjaan relokasi jalan tol tersebut sepertinya diserahkan kepada investor (Badan Usaha). Apakah investornya tesebut kira kira mau untuk membangun/berinvestasi ?, dengan risiko seperti ini (membenamkan milyaran rupiah kedalam lumpur) apakah tidak sebaiknya dilakukan oleh pemerintah saja ?.
Kalaupun misalnya risiko tersebut akan di asuransikan, apakah ada perusahaan asuransi yang mau ya ?

Jumat, 13 Juni 2008

Membawahi atasan

Kalau topik mengenai ”Mengatasi Bawahan” kita sudah sering mendengar dan mengetahui tapi kalau ”Membawahi Atasan” rasanya jarang ya.
Tulisan ini sebetulnya lanjutan dari posting saya sebelumnya ”kalau X maka Y”.
Setelah teori sya dipakai (hasil test atasan disebar luaskan kepada bawahan) maka perlulah bawahan membaca buku ini ” Memanajemeni Atasan”.




Bukunya tipis, isinya cukup menarik, terbitan LPPM.
Buku ini bukan hanya untuk orang yang bermasalah dengan atasan lho, yang tidak bermasalah juga perlu supaya kerja lebih efektif.

Kata orang ; Atasan itu ada yang positive predictable dan juga ada yang negative unpredictable.


Untuk anda yeng kebetulan mempunyai atasan yang negative unpredictable jangan khawatir deh, suatu kali Mario Teguh pernah bilang:

”Atasan yang buruk adalah contoh yang terbaik bagi orang yang akan jadi pemimpin besar..”

he..he.. he,mimpi kali yeee.

Mobile Society

Lima belas tahun yang lalu mungkin hanya sedikit dari kita yang pernah membayangkan bahwa kehidupan kita sekarang ini sangat ”connected” setiap saat.
Dari tengah sawah bisa kontak sekretaris di kantor, ditengah jalan bisa kirim e-mail mengenai data hasil penjualan ke kantor pusat, dn masih banyak lagi hal hal yang dulu belum terbayangkan.
Di lain sisi kita sekarang juga makin tergantung dengan gadget gadget baru di dalam mobile society kita sekarang ini.Banyak kmudahan tapi juga melahirkan makin banyak ketergantungan. Sebenarnya mobile technology ini berkah atau wabah bermusibah sih.
Coba sekarang jarang orang pergi tanpa ponsel, kemudian nanti mungkin akan sulit pergi tanpa laptop. Lha wong saya saja beberapa waktu yang lalu outbound ya maksa bawa laptop dan asesorisnya (supaya nggak ketinggalan berita mengenai sepak bola dan info selebritis).



Kalau X maka Y

Kalau X maka Y bukan berarti kalau Y maka X... wah opo yo.
Bukan masalah matematika, ini masalah persepsi teoritis, empiris psikologis dan sering membuat meringis.
Siapa yang tidak pernah ikut psikotest ?, saya sering, untuk memasuki kelompok strata tertentu, baik dikelompok akademis, kelompok sosial atau kelompok strata jabatan tertentu (naik pangkat gitu.).
Cape, mbosenin (apalagi kalau metoda yang digunakan itu itu saja), dan konon dapat dipelajari ( untuk bisa lolos test).
Tapi tahukan anda bahwa dipelbagai tempat dan kesempatan, test ini bisa membawa malapetaka bagi seseorang atau pun bahkan banyak orang.
Saya ingin membicarakan khususnya tentang psikotest untuk menapak ke strata kelompok jabatan yang lebih tinggi di suatu perusahaan.
Paling mengkhawatirkan di perusahaan yang (atas nama pemberian kesempatan yang sama) tetapi tidak mempunyai data track record seseorang dan memberikan bobot yang besar pada hasil psikotest yang nota bene dilakukan selama 2 atau 3 hari saja dari kurun waktu yang panjang untuk karier seseorang.
Lebih parah lagi kalau hasil test tadi me ”label” seseorang (mencap seseorang pada suatu kriteria tertentu), tanpa ada pembacaan record dari prestasi (achievement) apa yang pernah dibuat, kesalahan apa yang pernah dilakukan, pendapat atasannya, bawahan atau kolega horizontal.
Langsung dicap ”Kalau hasil testnya X maka dia pantasnya berlabel Y”.
Padahal kalau dia sudah berlabel Y belum tentu dia punya hasil test X lho.
Menurut saya memang wajar dan biasa penggunaan hasil psikotest sebagai alat untuk menilai, tapi tentunya bukanlah satu-satunya alat, dan besar bobotnyapun perlu dipertimbangkan terhadap kriteria-kriteria lainnya.
Dan satu hal lagi. Pada umumnya hasil test dipegang oleh kelompok atasan, untuk mengetahui karakter bawahan sehingga atasan dapat memilihkan tempat bagi bawahan dan juga sebagai bahan untuk membina (memperbaiki kelemahan) bawahan.
Lha itu idealnya, kalau saya terbalik.
Sebaiknya hasil test kelompok atasan harusnya juga disebarluaskan dikelompok bawahan. Tujuannya agar bawahan dapat mengenali karakter atasan dan dapat melayani atasan dengan lebih baik serta tepat sesuai karakter atasannya.wah ya agak nyleneh.

Bonding

Kemarin saya sempatkan untuk memilah koran koran lama untuk di ”pindahkan” ke tukang barang bekas.Eh kebetulan ketemu dengan sebuah artikel di Harian Kompas tanggal 17 Mei 2008 yang disusun oleh Eileen Rahman dan Sylvina Savitri.


Mereka menulis tentang Gunung Es Komunikasi.
Pada banyak empat dan kesempatan kita sering
melihat ada suatu kelompok spesies manusia (dalam suatu organisasi) yang terdiri dari individu yang cerdas, akrab, ketawa ketiwi satu sama lain tetapi tidak berkinerja optimal.Hubungan kerja dan hubungan sosial terasa hambar meskipun nggak ada konflik yang nyata (apalagi kalau ada konfliknya ya..). Why ..?.
Karena atmosfir didalamnya tidak menampakkan saling percaya antar anggota individunya. Komunikasi yang terjadi selalu dihantui rasa ”distrust , and prejudice”, meskipun hubungan yang terjadi penuh dengan canda ketawa ketiwi dan seolah akrab sebenarnya hanyalah berada pada puncak gunung es komunikasi saja. Coba saja pada suatu rapat penting (misalnya: rapat kabinet), keputusan yang telah dibuat dengan komitmen,pada tahap pelaksanaannya melempem dan sasaran gak pernah tercapai.koordinasigak pernah terjadi ”dengan tulus”, togetherness, rasa percaya dan kebersamaan tidak pernah terwujud.
Bonding antara pengambil keputusan dengan yang menanggung dampak keputusan tersebut tidak ada.


Modal sosial manusia; simpati, rasa pertemanan, kebersamaan dan solidaritas justru terasa pada saat bekerja secara negatif, pada saat protes, demo dsb., padahal justru hal hal ini perlu dimanfaatkan untuk memperkuat kinerja, melawan krisis atau menghadapi perubahan. Weleh weleh ...hebat uraian kamu Eileen.

Tadinya saya mau menyimpan artikel itu untuk jadi renungan lebih lanjut, tapi nggak jadi, huh... who cares hal ini ini kan tidak terjadi di organisasi saya (wuih menghibur diri nih).
Koran itu saya masukkan ke bagian yang akan ”dipindahkan” ke loakan.