Selasa, 13 Oktober 2009

D’you love me ?

Ribut masalah pemaksaan hak secara sepihak atas produk budaya suatu negara menjadi masalah yang mengganjal rasa dan pikiran berbagai pihak di negara ini. Baik yang berkepentingan secara langsung ataupun yang tidak berkepentingan ikut urun suara di pelbagai media.
Makanan, kesenian (syair, lagu, tarian, alat musik), pakaian (Batik, tenun dll), jadi rebutan untuk di daftarkan ke patent.
Kalau sedang merasa kehilangan baru kita ribut ribut. Tapi pernahkah kita bertanya apakah kita punya sistem yang baik untuk melestarikan legacy tersebut, tidak usah lah atas nama bangsa, etnis, agama, akan tetapi atas nama umat manusia sebagai mahluk sosial yang hidup dimuka bumi ini.
Pelestarian produk budaya atau tradisi bukan semata mata untuk kepentingan posessiveness saja tapi untuk kepentingan umat manusia. Coba bagaimana kita bisa punya budaya tari topeng Betawi, atau cerita pada wayang kulit/golek, Mie Baso/somay ?, bukannya dari belahan lain bumi ini ?
Nah kalau untuk kepentingan kebanggaan bangsa yang ada unsur posessiveness nya kita jadi ( merasa) perlu untuk didaftarkan untuk mendapat pengakuan, dipublikasikan dan sebagainya, maka ada satu syarat lagi yang harus kita miliki... yaitu kita harus MENCINTAINYA, dan dengan rasa sayang kita harus mampu memeliharanya.
Coba tanya; berapa banyak dari kita yang mengetahui tentang tarian tradisi daerah tertentu, dan tanya lagi berapa dari kita yang ikut mempelajarinya atau menganjurkan kepada anak anaknya untuk ikut belajar tarian tersebut.
Belum lagi mengenai produk sastra, produk makanan, bahkan abjad/huruf daerah tertentu dan lain sebagainya. Apakah kita turut memperhatikan dan ikut memeliharanya?
Kalau kita nggak pernah mencintai dan menyayanginya, kenapa juga kalo bangsa lain ingin memilikinya kita jadi sewot..?

Kalau gak ingin CENDOL atau DAWET diakui oleh orang lain, apakah anda sudah pernah tau bagaimana cendol dibuat ?, di daerah mana saja dan untuk kepentingan apa saja makanan itu disediakan ?, kenapa ada acara Dodol Dawet (jualan cendol) pada upacara pernikahan .... ?
Misalnya begitu lho...

D’you still love me now..? or you just don’t care about it..

HOMO GLOBULUS 2

Tepat setahun yang lalu saya pernah posting bertajuk Homo Globulus, waktu itu saya melihat bahwa ternyata efek global sangat terasa pada kondisi perekonomian kita (financial crisis di Amerika pengaruhnya secara langsung dan ‘seketika’ dapat dirasakan di negeri ini). Betapa efek global itu dapat kita rasakan (manfaat maupun mudaratnya) dengan serta merta.
Selain Homo Ludens kita sekarang juga menjadi Homo Globulus, ‘semua’ bisa berkomunikasi dengan ‘semua’, ‘semua’ bisa menjadi bagian dari ‘semua’ , mau tidak mau suka atau tidak suka kita menjadi mahluk yang sangat terpengaruh dan dapat berpengaruh didalam efek global.Setahun yang lalu mungkin pengguna Facebook di Indonesia masih separuh dari hari ini, inilah betapa kita memang Homo Ludens dan sekaligus Homo Globulus , semua ingin informasi dari semua,dan semua ingin memberi informasi tentang diri masing masing, bukan main... the power of information.

Kamis, 28 Mei 2009

Fans Club ‘Rasaonal’

Konon di negara Endonesah sedang diadakan Pemilihan untuk memilih kepala negara dan kepala pemerintahan.
Beberapa Calon telah ditetapkan untuk dapat dipilih. Penetapan calon di Endonesah juga menggunakan kriteria minimal yang diperoleh dari banyaknya suara pendukung calon tersebut melalui partai partai.
Sayangnya di negara tersebut peran partai ditengah masyarakat hampir tidak ada alias nyaris nihil, namun kebetulan rakyat nya sangat ‘tahu diri’ (kalau gak mau disebut bodoh), manutan saja dan tentu saja ini juga terbentuk dari kurangnya pendidikan yang dimiliki, yang juga disebabkan oleh miskinnya masyarakat disamping biaya pendidikan yang mahal.
Pemilihan juga dilaksanakan dengan cara pemilihan langsung orang yang bersangkutan, one man/woman one vote.

Dan dinegara yang sebagian besar penduduknya menyukai acara sinetron dan gossip ini menetapkan pilihan pimpinan mereka lebih banyak dengan “rasa”onal dan bukan dengan rasional.
“Rasa” nya si A lebih cakep dari si B, “Rasa” nya si C lebih tidak bermasalah ketimbang si D dan seterusnya.
Atau pokoknya si E deh, tanpa penjelasan spesifik kenapa dia lebih suka calon tersebut (bukankah ini juga menyangkut masalah emotion atau ‘rasa’ ).

Yaa, betul sekali... seperti di Indonesian Idol, atau acara ajang penelusuran kemampuan seseorang melalui polling SMS. “Rasa”onal akan lebih berarti daripada rasional.
Contohnya kalau ada kontestan yang ‘sepertinya’ terdzalimi akan mendapat suara tambahan dari publik

Lho lantas platform Partai pengusung calon, dan program kerja sang calon ikut dijadikan referensi nggak sama masyarakat Endonesah ?
Sepertinya sih nggak terlalu dipentingkan, soalnya ya begitu lah, dengan kondisi ‘rasa’onal tadi yang terpenting adalah pencitraan didepan rakyat.

Laah kerjaan partai disana gimana dong ?
Ini yang membingungkan, soalnya masyarakat sana juga tidak pernah merasakan ada kerja nyata dari partai partai tersebut.
Menurut mereka definisi Partai adalah sekumpulan orang berseragam yang mengelola Fans Club (dari orang yang dijagokan tentunya), yang kegiatannya hanya sibuk setiap 5 tahun sekali, untuk membentuk pencitraan tertentu sebagai jalan pemenangan.

Yaaah seperti layaknya seorang penyanyi atau club sepak bola, apapun yang dilakukan oleh penyanyi atau club sepak bola tersebut akan selalu dianggap baik dan benar oleh para Fans nya. Suasana inilah yang dipelihara terus oleh “pengelola” Fans Club (eh... Partai) tersebut.


Itu semua di Endonesah loh..

Kamis, 16 April 2009

Cah Workshop ke Queensland (1)

Wah jarang terjadi, Cah Workshop melancong ke Negeri kanguru, tepatnya ke Brisbane, Queensland. Kebetulan Paguyuban Audit Internal Australia (IIA Australia) mengadakan Konferensi tahunan se Asia Pacific di akhir Maret 2009. Thema yang diusung tahun ini Internal Audit : Trusted and Valued in challenging times.

Memang “being Trusted” dan “having Valued” menjadi sangat berat di masa sulit (Global Financial Crisis) ini. Level dari “Reliable Assurance” yang seperti apa yang diperlukan oleh kita setelah melihat berjatuhannya Perusahaan besar dan perbankan di dunia di dua tahun terakhir ini. Demikian kira kira seruan dari Konferensi ini.

…INTERNAL AUDITORS, …YOU GOTTA LOVE ‘EM… kata Key Note Speaker nya

Saya tidak ingin bahas masalah Krisis Global tersebut. Dipostingan kali ini dengan sedapat mungkin untuk tidak “Narsis” saya cuma ingin share menampilkan beberapa catatan Cah workshop yang ndeso di negeri orang yang sudah modern.

Acara yang disusun oleh Panitia (dari Jakarta) sangat padat, selain Konferensi kami juga mengikuti panel diskusi (yaah semacam bench marking nya para anggota DPR atau anggota KPU kalau lagi pergi keluar negeri gitu laaah).
Venue acara dilaksanakan di South Bank , Brisbane Convention and Exhibition Center selama 4 hari penuh.
Sudah pernahkan anda berada disuatu ruangan bersama 600 an orang yang mostly berpredikat AUDITOR dari 12 Negara?. Naaah itu yang saya alami.

…INTERNAL AUDITORS, …YOU GOTTA LOVE ‘EM… demikian Jargon dari penyelenggara yang di ulang ulang terus (memang biasanya Internal Auditor kagak disenengin yaa? ).

Topik pembahasan sangat beragam, dari mulai masalah sub prime mortgage, global warming, Risk Management, ICT, sampai ke efektifitas Lie detector. Pokoknya macem macem deh (ya namanya juga suka sukanya auditor Australia aja).

Topik posting ini gak kearah per auditan tapi ke cerita keseharian di Brisbane yang berpenduduk paling banter 3 jutaan sebagai kota ketiga terbesar di Aussie setelah Sydney dan Melbourne.

South Bank, Brisbane;
Wilayah South Bank memang menjadi tempat rekreasi kota Brisbane, disitulah tersedia fasilitas Sosial Budaya bagi penghuni kota.Letaknya hanya berada diseberang (sungai ) dari CBD nya. Beberapa catatan saya tentang kota ini ;

Street Beach :
Brisbane dibelah oleh Brisbane River. Meskipun tidak ada pantainya, namun di wilayah South Bank mereka menyediakan pantai imitasi di tepian sungainya yang mereka namakan “Street Beach”



Brisbane River.. dan Ferry :
Ferrry di Brisbane River selain jadi sarana wisata juga digunakan sebagai moda transportasi ( tapi orang Brisbane yang naik ini … pasti iseng banget yaa)



Parkir dan Toll :
Emang enak parkir di perkotaan tuh liat aja tarifnya 15 AUSD
Kalau jembatan tolnya punya 5 jenis golongan kendaraan (paling murah tarifnya 1,3 AUSD untuk sepeda motor dan 2,9 AUSD untuk sedan ).
Tapi mereka punya beberapa ragam cara pembayaran tol.







Makanan :
Maklum, karena Cah Workshop adalah wong ndeso gak ketemu nasi agak susyah juga …. lihat aja model makanannya.







Eeh sekali ada nasi modelnya kayak gini (gak jelas), nasi yang nyaris mateng di beri wijen dan ayam pake tusukan, dikasih saus mangga..??


Binari dan Pemilu


Dalam kurun waktu 5 tahun kita yang tinggal di Jakarta, paling tidak kita ikut 3 kali Pemilihan ; Pil Gub, Pil Leg, dan Pil Pres.
Pada saat ituah orang bilang, kita “Memberikan Suara” kita didalam Pemilu.
Nah saya kok agak sependapat dengan apa yang dikatakan Gunawan Muhammad di Catatan Pinggirnya TEMPO ;”.. setelah kita mencontreng (atau mencoblos..jaman sebelumnya), maka saat itu pulalah kita mengubah diri kita menjadi satu “1” satuan numerik..” demikian katanya.



Memang sejak saat itu Keterwakilan kita dalam berpikir, ber’suara’ mengemukakan pendapat, dan bertindak berubah menjadi satu satuan numerik untuk memilih orang atau Partai tertentu yang nota bene tidak terlalu kita kenal baik secara kasat ataupun secara emosional dengan mendalam (kecuali kalau memang dia itu saudara/teman/tetangga kita), begitu juga dengan Partai (yang kantornya saja sibuknya cuma kalau mau Pemilu).
Bukankah ini ambiguiti ya ? katanya kita memberikan suara tapi kok malah berubah menjadi numerik.. he he. Mendingan posting di Blog kan ? bebas berpikir dan “bersuara” mengemukakan pendapat yang norak sekalipun.

Nah demikian pula sebaliknya, kalau gak ikutan memilukan diri berarti kita berubah jadi Nihil alias “0” secara legal kita menjadi tiada, baik yang disengaja atau yang tidak terdaftar di DPT yang diributkan itu.

Jadi ya begitu, dalam sekejap 171 juta orang Indonesia yang punya hak suara menjadi deretan bilangan Binari.. 1 dan 0 .. dan sekaligus saat itu juga kita “kehilangan” suara kita yang asli untuk diwakilkan ke pada seseorang atau sesuatu yang (rata-rata) tidak kita kenal betul.

Ngomong ngomong mengenai bilangan Binari saya jadi ingat cara kerja komputer ( menggunakan bahasa Binari ). Kalau saja Bill Gates si Raja Komputer dan Raja uang itu kita sewa untuk membantu kita jadi anggota KPU, pasti deh masalah kerumitan kerja yang sekarang muncul seperti administrasi DPT atau komunikasi data untuk tabulasi, tidak akan terjadi.

Atau mungkin dia malah berkata :” aneh ya … hardware dan software yang umum dipakai didunia kok kalau dipakai di sini jadi Lemoooot..? karena iklim atau orangnya ya ?”

Kamis, 09 April 2009

Are You men..Contreng ?

Sempat dibahas di Metro TV tadi malam bahwa Indeks Pengembangan Masyarakat (Human Development Index) untuk Indonesia berada di posisi ke 107, dibawah Vietnam dan Palestina di urutan 105 dan 106. … sangat mengharukan. Lantas kemana saja pengurus bangsa ini, baik yang formal maupun yang non formal ?
Hari ini bangsa ini akan menjadi pelaku sejarah dari suatu proses pemilihan keterwakilan rakyat dalam suatu lembaga terhormat, yang tentu saja mempunyai tanggung jawab dan kewenangan untuk menjadi pengurus bangsa yang besar ini.

Apakah keterwakilan kita masih tersisa dan terasa disana ?, makin tingginya angka KTM (Kelompok Tidak Memilih) dapat dijadikan indikator hal tersebut. Dibanyak kesempatan himbauan untuk tidak menjadi KTM menjadi lebih digalakkan, ini tentu sangat positif dalam rangka menjaga legitimasi hasil Pemilihan serta menghindari kemubaziran biaya yang telah dikeluarkan.
Tapi gimana yaaa. Ini masalah trust juga sih pada akhirnya. Coba saja simak bagaimana Acara Akbar ini dipersiapkan; dari masalah distribusi logistik yang keteteran, akuntabilitas masalah DPT dan masalah pengawasan yang rentan pelanggaran. Lantas juga dari sisi pesertanya, ada Calon yang ketangkap tangan sedang melakukan tindakan yang nggak pantas. Boro boro kenal calonnya, Partai nya saja kita terkadang nggak tahu platformnya, terus mau gabung (koalisi) sama yang mana juga belum tahu.
Kira kira pantas saja kan KTM makin tinggi dan menyanyikan ; “ Jangan ada KITA diantara DUSTA” ..(eh terbalik ya syairnya..).

Naaah.. barangkali kalau Pemilunya memilih tanda gambar seperti yang ini, mungkin KTM bisa dikurangi. I wish… bisa seperti ini kenyataannya.
Selamat memilukan diri saudara saudara sekalian….


Senin, 09 Februari 2009

Tidak Mencalonkan Diri

Saya mengundurkan diri dari Pencalonan Kepala Kampung tahun ini. Tadinya saya pikir akan menjadi prioritas penting untuk menjadi ‘orang penting’ di Kampung ini, seperti kata banyak orang bahwa hidup ini harus bermanfaat bagi masyarakat dan saya rasa itu menjadi motivasi besar dan cukup menjadi alasan untuk mencalonkan diri.

Tapi itu adalah beberapa waktu yang lalu.
Setelah melihat kenyataan bahwa virus democrazy menjadi tidak terkenali lagi didalam kehidupan sosial dan politik Kampung saya, nggak jelas lagi makna dan tujuannya, penuh intrik, licik dan mungkin klenik (yang jelas berbiaya selangit, silahkan disurvey beberapa banyak uang bertebaran didalam acara pemilihan).
Terlebih setelah disadarkan bahwa bangsa ini memang di ’stereotype’ kan sebagai bangsa yang senang main “trabas”, menginginkan segala sesuatunya secara instan (ini menurut Pak Koentjorojakti yang antropolog). Politik kekerasan sudah banyak jejak rekamnya, budaya keroyokan sudah menjadi pelajaran ekskul di sekolah sekolah; pukul memukul di Perguruan Tinggi, dilapangan olahraga bahkan diruang wakil rakyat yang terhormat.

Karena alasan itu semua, “…dengan ini saya nyatakan .. mengundurkan diri dari pencalonan Kepala Kampung”.

Selanjutnya saya mau bertafakur dan berdoa agar bangsa ini mendapat pelajaran yang terbaik dari apa yang dinamakan Demokrasi, dan semoga tidak banyak korban nyawa, korban harta dan korban kewarasan dalam menjalankannya.

Saya juga berharap agar masyarakat menyadari bahwa pilar tegaknya demokrasi antara lain adalah tingginya moral attitude bangsa ini serta level pendidikan yang cukup bagi masyarakatnya.


(Gilee, Ge Er banget emang siapa juga yang mau milih gue….?)

Kamis, 15 Januari 2009

Pre-paid smart-card

Setahun yang lalu saya pernah membuat posting mengenai Smart-Card disini, dan sekarang (sebenarnya mulai tanggal 3 Januari 2009) mulai diberlakukan (baca “diujilapangankan”) e-Toll Card alias Kartu Prabayar untuk membayar transaksi di gardu Tol.

Bagaimana menggunakannya ?, bagaimana mendapatkannya ?, apa saja manfaatnya ?, menjadi pertanyaan kita semua. Tapi jawabnya cukup sulit dicari, atau memang mungkin “sosialisasi” dan marketingnya masih kurang dilakukan oleh operator. Memang sih syarat dan ketentuan berlakunya dikeluarkan Bank, tapi toh tetap menurut saya operator punya hajat juga untuk menyampaikannya secara massive dengan program yang terukur kepada pelanggan tercintanya, apalagi menurut yang saya baca dari media diharapkan bahwa 30 – 40% pengguna akan memakai kartu ini di 5 tahun kedepan.
Nah kebetulan dari tangan pertama saya sempat melihat bentuk kartunya. Coba bandingkan dengan kartu prabayar versi saya.







Yang ini versi saya.. duluuu



Ini ada rekaman pada saat menjelang transaksi di Gerbang Tol, di atas Gerbang Tol tertulis Transaksi E-Toll Card tapi sepertinya disetiap Gardu akan bisa mentransaksikan E-Toll Card

video

Direkaman ini dapat dilihat cara bertransaksi dengan petugas Tol, sebetulnya sama saja dengan cara transaksi cash yang sekarang, hanya saja uangnya sudah diganti dengan kartu smart E-Toll.Coba dihitung berapa detik bedanya ?

video

Jumat, 09 Januari 2009

Jam 06.30 tepat

Bila ingin tahu arti waktu 1 tahun,
Tanyakan kepada pelajar yang tidak naik kelas

Bila ingin tahu arti waktu 9 bulan,
Tanyakan pada seorang Ibu yang baru melahirkan

Bila ingin tahu arti waktu 1 menit,
Tanyakan pada orang yang tertinggal penerbangan SQ terakhir

Bila ingin tahu arti waktu 0,1 detik
Tanyakan pada Felippe Massa di Sirkuit Brasil 2008

Tapi bila……. ingin tahu arti waktu 30 menit,
Tanyakan pada pejabat Pemda DKI Jakarta yang mengubah jam masuk sekolah di Jakarta….

Saya sebagai salah satu waktu warga DKI agak kurang mafhum dengan hitung hitungan penanggulangan kemacetan dengan cara tersebut. Mungkin karena memang belum pernah disosialisasikan mengenai metodologi analisisnya, atau karena saya kurang menyimak penjelasan para pemangku policy Ibukota ini.

Menurut saya beberapa alternatif solusi penanggulangan kemacetan yang pernah dimulai dapat diteruskan dengan konsisten. Pernah dalam beberapa posting terdahulu saya mengutarakan bahwa telah banyak dilakukan kajian, analisis, dan tahapan perencanaan lainnya hasil dari berbagai ahli/konsultan yang berkaitan dengan sistem transportasi perkotaan khususnya Jakarta. Intinya pertama adalah traffic demand management dan keduanya adalah reliable dan desirable public transport di kota ini. Coba kita perhatikan perencanaan yang tidak sempurna dan pelaksanaan yang kurang konsisten ;
> Lajur Busway (high occupancy vehicle lane) adalah ide yang lumayan, tapi pelaksanaannya jauh dari sempurna, contohnya; jalannya (busway) sudah jadi (dengan pengorbanan luar biasa dari publik) tapi armada bisnya masih kurang atau bahkan di beberapa koridor belum ada armadanya/ belum dioperasikan.

> Jalur monorel juga proyeknya mangkrak, apalagi subway pasti lebih berat lagi
> Malah ada rencana untuk memasivekan proyek jalan raya (ada 6 jalan tol baru..?), yang dulu mungkin diharapkan massive developmentnya untuk railway transportation (public transport)

Kembali ke masalah pemajuan jam masuk sekolah, ingin sekali kita mengetahui profil pengguna jalan untuk kepentingan pergi pulang sekolah.
Dari seluruh anak yang bersekolah, berapa persen yang menggunakan kendaraan bermotor.

Dari yang menggunakan kendaraan bermotor, berapa persen yang menggunakan kendaraan mobil pribadi .

Dari yang menggunakan mobil pribadi, berapa persen yang tidak bareng dengan orang tuanya pada waktu berangkat dari rumah (mobil yang berbeda dengan mobil orang tuanya yang pergi kekantor)

Hal tersebut di atas akan berarti dalam melihat apakah ada perubahan jumlah trip (perjalanan), dan kemudian apakah pengurangan kemacetan cukup sensitif dengan perubahan 30 menit tersebut. Jangan jangan perubahan yang cukup berarti baru terjadi kalau masuk sekolahnya jam 5 pagi !!!

Jam kerja kantor swasta mau diubah menurut wilayahnya?? Bagaimana mengontrolnya ?, juga bagaimana analisis hitungannya ?. Saya ingat waktu pertama kali diberlakukannya 3 in 1 di Sudirman Thamrin, dengan mudah dan tidak terduga langsung tidak optimal gara gara munculnya Joki

Coba dulu deh benahi public transport dengan fokus dan telaten. Mungkin biayanya investasinya memang besar, tapi benefitnya layak diperhitungkan


Selasa, 06 Januari 2009

Spiderman hates Jakarta ?

Bukan karena di Jakarta sudah ada Gatotkaca dan Wiro Sableng, tapi karena tugas kepahlawanannya mempunyai kendala. Jakarta gedung tingginya masih kurang banyak dan kurang padat, jadi dia tidak bisa berayun ayun antar gedung padahal dia nggak bisa terbang. Dipusat kotanya saja yang terkenal sebagai Bundaran HI seperti foto dibawah ini, gedung tingginya masih kurang rapat. Selain itu juga kalau di Jakarta dia bisa Sal-Tum alias Salah Kostum, panas dan pengap, kalau menggunakan kostum spidermannya , yo sumuuuk rek.


Tapi sebenarnya yang lebih bikin dia nggak betah adalah kebanyakan kejahatan besar yang ada di Jakarta adalah Kejahatan Kerah Putih, justru Kejahatan Kerah Putih (KKP) ini yang dia kurang pengalaman. Disini konon kerugian akibat KKP bisa mengakibatkan kerugian negara tujuh turunan.Spiderman biasanya membasmi kejahatan yang banyak menggunakan kekerasan fisik, maklum dia juga sekolahnya tidak terlalu tinggi dan dia bukan orang kaya seperti Batman. So kalau mau jadi super hero di sini, harus mampu dan berani melawan KKP, maka spiderman kalau mau ke Jakarta harus Sekolah dulu dan ganti kostum yang nggak ketat seluruh tubuh ...

Are You Modern ?

Modern oleh banyak orang sering diartikan segala sesuatu yang berciri ke kinian, serba up to date. Sedangkan lawan katanya adalah tradisional, kuno atau kelembaman (mungkin looh.. saya Cuma kira kira saja).
Lebih baik mana, Modern atau Tradisional (kuno) ?, jawabannya bisa relatif, tapi kalau pertanyaannya lebih baru mana, ya sudah pasti lebih baru Modern.
Modern sangat didukung oleh tingkat budaya (hasil olah pikir manusia), Hardware (H), Software (S) yang dirumuskan melalui Brainware (B).
Tapi apakah H S B saja cukup untuk menjadikan kita Modern ?, ternyata menurut saya masih belum. Dasar utama untuk menjadi “Modern yang baik” adalah Perilaku (Attitude) dari manusianya.

H,S dan B bisa dibeli kalau kita kaya, tapi Attitude (A) tidak bisa , A harus ditempa, dibentuk dan dipelihara dengan upaya yang cukup.

Saya nggak ingin menyebutkan contoh, tapi lihat saja dari sejarah perjalanan hidup manusia ; banyak tingkat budaya yang sangat maju telah dicapai oleh suatu bangsa (kaum) tetapi sekarang sudah hilang musnah.
Dan juga kebalikannya contoh adanya suatu bangsa yang dulu belum maju ( belum modern) pada jamannya tetapi sekarang menjadi termaju di dunia.
Rahasianya adalah bagaimana menempa, membentuk dan memelihara Attitude (A).

Modern bisa digabung dengan tradisional ?

Bisa saja, Modern diambil kasat matanya dan fungsionalitinya, Tradisional diambil spiritnya, valuenya.

Ada cerita, waktu itu saya sempat ikut gerak jalan di suatu hari Minggu di Jakarta.
Ingat nama Sarinah......?, nama yang diberikan oleh Bung Karno untuk wanita Indonesia yang berjuang untuk bangsanya.
Nama itu terasa sangat ‘mewakili ke-Indonesiaan kita”, yang terbayang tentunya wanita Indonesia berkonde yang meskipun memakai kain, tetap gesit dan cerdas dalam beraktifitas.
Tapi itu duluuu...., sekarang visualisasinya seperti pada foto di halte Bus Transjakarta gedung Sarinah jalan Thamrin. Wanita Indonesia menjadi Cosmo Girl, Born to Lead.. Nggak apa, yang penting spiritnya value tradisionalnya tetap bernama SARINAH.

OK deh, dengan sepenggal lagu Halo Halo Bandung... kita nyanyikan“..Mari Bung Kita Modern”




Jumat, 02 Januari 2009

Are you alone ?

Ini bukan Iklan untuk menawarkan pendamping (escort) yang banyak terdapat di media barat. Saya coba berceloteh tentang adab manusia sebagai mahluk sosial. We definitely are not alone in this world.

Tapi coba kita lihat di hampir dua dekade terakhir ini, teknologi telah mengubah banyak hal tentang adab manusia secara sosial. Perkembangan ICT (information & Communication Technology) telah kita menjadi mahluk yang “mobile and self sustained”. Kontak sosial telah semakin pudar, sekarang sering dijadikan topik dalam ceramah agama mengenai pentingnya ber silaturakhim dalam “kehangatan yang face to face” .... weleh apalagi ini ( wah tapi pakai internet kan juga bisa ada web-cam nya lhoo ?).

Dalam kehidupan sekarang, kita sering lebih terwakili sebagai no hp kita, nomor apartemen kita, alamat blog kita, NPWP kita,.. dst semakin banyak lagi. Ruang sosial yang nyata semakin kurang mewakili kebutuhan kita, akan lahir komunitas dan jejaring sosial maya. Kebayang nggak kalau perayaan tujuh belasan dilakukan melalui on-line Game atau rapat RT bisa pakai tele-meeting dari rumah saja.

Hal ini tentu tidak selalu berarti buruk, hanya saja kalau ini lahir “terlalu dini” di masyarakat kita yang sangat besar jurang perbedaannya akan lahir kendala sosial baru yang akan muncul.
Selain itu juga apabila hal ini di support oleh kepentingan pemilik teknologi sebagai vendor akan menjadi bentuk neo kolonialisme dengan bentuk jajahan/paksaan teknologi

Kembali ke topik We are not alone, kita boleh saja sangat fully equiped dengan peralatan ICT namun kalau menggunakan ya jangan sampai mengganggu orang lain (nelpon seenaknya di ruang publik tertentu atau waktu sedang rapat) atau bahkan membahayakan orang lain (misalnya nelpon membaca SMS, ngeblog sambil nyetir mobil), kita masih punya batasan untuk menghormati eksistensi pribadi lain.Nah untuk itu pada suatu ketika saya sempat memperhatikan di sebuah restoran terkenal di Kolkata India, namanya Restoran Peter Cat, yang dimejanya terlihat pengumuman “Thank you for switching off your cellular phone as a courtesy to other customers”.


Nggak tau deh ini karena orang India kalau nelpon suaranya keras atau karena mereka sangat menghargai kepentingan orang lain, tapi yang jelas hal hal seperti ini bisa lebih menjaga adab sosial dan akan lebih menghangatkan suasana silaturakhim yang “nyata dan face to face” seperti saya sebutkan di atas.

Ketik REG SPASI GUNDULMU

Entah kebodohan apa lagi yang ditawarkan kepada kita akhir akhir ini. Coba perhatikan iklan di berbagai media.

Ketik REG ANU dan kirim SMS anda ke xx78,..... maka kita akan dapat kebodohan 1, penipuan 2, pemiskinan 3 dst.
Ada tiga hal dari fenomena yang terjadi tersebut ; ini ciri dari masyarakat kita yang bodoh, masyarakat yang terlalu senang hal yang serba instant atau justru masyarakat yang kreatif.
Pakar bisnis pasti bilang ini ilmunya orang dari divisi Perencana Produk (yang mempunyai motto ‘how to dig your customer’s purse deeper and deeper..’).
Betapa nelongsonya kalau kita lihat tipuan hadiah atas jawaban benar melalui SMS sebuah pertanyaan yang sangat konyol, atau mengenai “jalan hidup” kita yang bisa diketahui oleh ahli nujum yang bahkan mungkin sama sekali tidak membaca SMS yang dikirimkan.
Pada saatnya nanti pasti akan ada content provider yang menyediakan semua paket tentang macam macam kebutuhan masyarakat kita didalam satu menu yang lengkap.

Menurut saya ini ciri masyarakat yang ‘sakit’ dan keimanannya dipertanyakan. Lantas ada pertanyaan ; apa ini perlu dilarang/diatur ?, atau masyarakatnya yang disadarkan ?

Mau tau jawabannya ?; ... KETIK REG GUNDULMU dan kirim ke nomor saya.... wah malah ketularan.