Rabu, 06 Juli 2011

Batalion Pelangi

Awal Juli ini kebetulan kami mendapat kesempatan menyaksikan pertunjukan musikal yang (menurut pendapat saya), beyond my expectation. Musikal Laskar Pelangi, pertunjukan musikal ini memang disadur dari novel best seller karya Andrea Hirata sebuah novel yang sangat inspiratif bagi bangsa yang haus akan tokoh panutan, akan tetapi tanpa suatu proses penciptaan yang sempurna, mustahil drama musikal ini bisa mendapat sambutan yang sehebat itu. Saya merasakan bahwa chemistry yang terjadi antara sutradara, komposer, koreografer, produser, desainer, serta para pemain pendukungnya sangat pas, ‘just right’.

Inti cerita dari novel “Laskar Pelangi” (menurut pengarangnya) adalah suatu cerita mengenai perjalanan balas dendam sang penulis atas kondisi (nasib) yang dialami sahabat yang sangat dikaguminya yang harus pada akhirnya menyerah menjadi korban, tidak dapat meneruskan sekolahnya karena himpitan ekonomi. Sang penulis tidak ingin menjadi korban kedua, Andrea ingin meneruskan cita cita sang sahabat untuk dapat bersekolah tinggi di luar negeri, and he did it. Dan tentu saja novel ini juga ditulis dengan cinta seorang murid terhadap konsistensi dan dedikasi sang Ibu Guru Muslimah.

Kejadian dalam cerita itu terjadi disekitar penghujung tahun 70 an, dan novelnya diangkat tahun 2004 atau 2005.
Surprisingly, 30 – 40 tahun kemudian setelah kejadian dalam cerita itu, saya masih membaca cerita yang menyedihkan tentang pendidikan di negeri ini, bahkan beberapa hari yang lalu saya membaca artikel di head line surat kabar mengenai bagaimana sulitnya mendapatkan sekolah dari semua tingkatan, tinggi, menengah maupun dasar. Hal ini yang kemudian juga ikut berperan dalam melunturkan rasa kejujuran kita (kasus Ibu Siami dan keluarganya dari Surabaya), padahal kita tahu bahwa di Sekolah Dasar lah seorang anak mendapatkan pendidikan pertama mengenai pondasi norma kejujuran.



Saya jadi khawatir dan membayangkan, kalau disaat itu saja ada Laskar Pelangi (dalam pengertian anak anak yang minim sekali mendapat kesempatan berpendidikan), lha bagaimana sekarang setelah beberapa decade kemudian ?, mungkin tidak sekedar hanya Laskar Laskar Pelangi tapi sudah ada berapa Batalion Batalion Pelangi di negeri ini…

Ibukota (2)

Beberapa waktu yang lalu tepatnya dihari Senin 27 Juni 2011, terjadi kemacetan yang luar biasa hampir disemua jalan arteri utama Ibukota. Kemarahan dan kekesalan menjadi sangat wajar ketika beribu kendaraan hanya dapat berjalan beringsut seperti siput dan terkadang harus berhenti lama, kondisi tersebut terjadi mulai siang hingga tengah malam.Dapat dibayangkan pemborosan sumber daya waktu dan pemborosan bahan bakar minyak akibat kemacetan tersebut.
Kejadian ini disebabkan oleh karena dikuranginya kapasitas jalan akibat perbaikan jembatan di km 9 Jalan Tol Jagorawi arah ke Selatan (Bogor).
Perbaikan jembatan tersebut memang memerlukan manajemen pelaksanaan yang lebih baik sehingga semua pihak dpat lebih mengantisipasi keadaan yang akan terjadi. Selain Manajemen pelaksanan konstruksi, juga manajemen lalu lintas harus dilaksanakan dengan suatu kajian lalu lintas dan jaringan jalan dengan baik.
Apabila diperhatikan pada skema jaringan berikut, ternyata kejadian gangguan lalu lintas yang “HANYA” terjadi di km 9 jalan tol Jagorawi (arah Selatan/Bogor) telah meluluh lantakkan hamper sebagian besar lalu lintas di Jakarta. Dampak yang terjadi sampai beberapa belas kilometer ruas areri utama ibukota, dampak kemacetan mencapai jalan tol Bandara, Arteri Pondok Indah, Tomang, dan sebagian besar Jakarta Utara.




Akan tetapi kemudian pertanyaannya, seberapa mampu lagi kita meningkatkan kualitas metoda pelaksanaan pekerjaan (manajemen pelaksanaan konstruksi) dan manajemen lalu lintas ?, dan pada waktu yang lain tentunya akan ada lagi kegiatan perbaikan jembatan atau pemeliharaan lain dari ruas-ruas jalan di Jabotabek.
Dari kejadian tersebut ternyata dapat kita simpulkan bahwa kondisi transportasi di Ibukota sudah sangat kritis, sangat sensitive sekali terhadap adanya gangguan meskipun gangguan tersebut relative kecil ( misalnya ada satu mobil mogok saja berdampak besar).
Sudah nggak kurang tulisan para ahli transportasi mengenai kondisi transportasi di di wilayah Jabotabek dibahas, dibuat studinya dan sebagainya. Data menunjukkan timpangnya pertumbuhan infrastruktur transportasi dibandingkan dengan pertumbuhan sarana kendaraan pribadi.
Yang paling menonjol adalah tingginya pertumbuhan kepemilikan kendaraan roda dua dan juga perubahan moda transportasi pengguna kendaraan umum yang menurun drastic.
Pengguna bis (bis merupakan transportasi umum yang terbesar di jabotabek) turun dari 38 % menjadi 12.9% saja di tahun terakhir ini.
Skema berikut menggambarkan besaran dari lalu lintas harian rata rata di beberapa jalan tol di wilayah Jabotabek.



Dengan rata rata sekitar 200.000 kendaraan perhari di masing masing ruas, maka masuk akal kalau gangguan sedikit saja di ruas jalan utama di Jakarta, maka lumpuhlah transportasinya, apalagi gangguannya cukup besar seperti pada kasus perbaikan jembatan di Jagorawi.

Transportasi di Ibukota, menurut saya, hanya akan terurai kalau kita; Pertama, segera memiliki transportasi umum masal yang reliable, yang “SANGGUP / MAMPU” untuk memindahkan moda transportasi dari kendaraan pribadi ke sarana transportasi umum masal; Kedua, mulai secara bertahap mengatur dengan tegas pola penggunaan lahan agar sentra aktivitas dapat dikendalikan.

Mari kita ikut mendukung disegerakannya program pelaksanaan sarana dan prasarana transportasi umum masal yang reliable di Ibukota

Senin, 27 Juni 2011

Jujur itu hebat

Di bulan Mei 2011 secara kebetulan saya mewakili perusahaan untuk mengikuti International Conference di Bali. Penyelenggara konperensi ini adalah KPK (komisi Pemberantasan Korupsi) dan OECD, themanya cukup berat “Combating Foreign Bribery in International Business Transaction”. Saya berada dilingkungan Institusi yang berjuang untuk memerangi Korupsi dari berbagai belahan dunia, dan juga mungkin saya waktu itu berada diantara ‘the real Heros’ yaitu para aktivis anti praktek korupsi dari berbagai negeri. Saya katakan demikian karena memang pahlawan yang paling didambakan pada saat ini adalah para manusia yang memiliki integritas super, pemberani dan memiliki visi dan misi yang sangat jelas untuk memberantas korupsi dimanapun didunia ini.
Saya tidak akan membahas materi dalam konferensi yang dibuka oleh SBY ini, dan lepas dari masalah apakah KPK telah melakukan tugasnya dengan baik atau tidak, ada yang menarik perhatian saya dalam penyelenggaraan acara oleh KPK ini.
Kita tentu tahu bahwa selain masalah penindakan, KPK juga menjalankan program pencegahan terjadinya Korupsi, hal ini dilakukan antara lain dengan kampanye kampanye yang bernuansa mengajak masyarakat untuk berjuang melawan tindak korupsi.Kampanye dilakukan baik melalui hal yang serius, misalnya dengan membuat Sistem Pelaporan Pelanggaran (Whistleblowing System), sampai dengan kampanye melalui hal hal sepele seperti mempublikasikan buku buku yang dapat membentuk karakter dan integritas untuk anak anak usia sekolah dasar atau dengan membuat jargon jargon anti korupsi seperti pada foto dibawah ini.
“Jujur itu hebat” itu themanya, menurut saya malah lebih dari itu,.. “jujur itu sehat” (minimal untuk kesehatan bathin, he he..)





Buku buku untuk anak anak

Kamis, 23 Juni 2011

Superman is Dead Part II

>
Dalam beberapa hari di bulan Juni ini salah satu stasiun TV Lokal menyuguhkan sinema serial Superman, dari film yang dibuat tahun 70 an sampai dengan yang diproduksi tahun 2000 an, cukup asyik untuk sekedar bernostalgia dengan menonton film baheula yang pada jamannya sudah merupakan film yang tinggi teknologi pebuatannya


Di salah satu episode Film Superman tersebut Lois Lane sang wartawati Daily Planet menulis “Why the world doesn’t need Superman” yang memenangkan anugerah Pulitzer, Didalam artikelnya tersebut kira kira dia akan menulis antara lain ; bahwa Super Hero seperti Superman membuat kita melupakan the real Hero seperti guru, pemadam kebakaran, aktivis lingkungan atau yang lainnya.

Judul artikel Lois Lane itu cukup menggelitik saya untuk menulis posting ini (untuk kedua kalinya, beberapa tahun yang lalu juga pernah saya mengangkat topik ini).
Dalam kehidupan kita sekarang ini, dilingkungan kita sendiri (lingkungan pekerjaan, bertetangga, bernegara),.. cukup relevan untuk pertanyakan “ do we need SUPERMAN ?”.
Saya pikir kita tidak lagi membutuhkan SUPERMAN.
Yang kita butuhkan adalah SUPER TEAM, menciptakan SUPER TEAM akan lebih bermanfaat daripada memilih SUPERMAN atau beberapa SUPERMAN, SUPERTEAM akan mampu menciptakan achievement yang lebih baik dan lebih cepat karena chemistry nya sudah klop lingkungan yang terbentuk pasti hangat dan dinamis, penuh dengan trust dan saling mengisi kekurangan dan saling peduli.
Saya juga pernah membaca artikelnya Eileen Rachman & Sylvina Savitri di Harian Kompas bertajuk “ Inteligensi Kolektif”.
Inteligensi kolektif seringkali sulit terwujud, kinerja team yang beranggotakan orang orang Super (para SUPERMAN), seringkali berjalan tidak lancar mungkin karena sindroma too many brains, masalah egoism pribadi atau diantara para SUPERMAN tadi mempunyai masalah dalam hubungan interpersonal mereka (punya sejarah konflik).
Di artikel itu dikatakan bahwa dari suatu penelitian ditemukan fakta bahwa “kekuatan” yang dihasilkan kelompok lebih dipengaruhi oleh factor “CARE” atau kepedulian. Dengan individu individu yang berprestasi, dialog/komunikasi satu sama lain adalah sangat penting baik formal atau non formal. Perlu keterbukaan yang “GENUINE”.

He.. he. coba tengok sekeliling anda, saya percaya SUPERTEAM lebih diperlukan dari pada SUPERMAN atau sekumpulan SUPERMAN yang tidak punya rasa care.
“ People don’t care how much you know until they know how much you care” demikian kata John Maxwell .

Membentuk SUPERTEAM nggak gampang lho… karena para individualis yang egois pasti nggak suka akan hal itu.

We don’t need SUPERMAN.. we just need SUPERTEAM ... ..SUPERMAN is definitely dead.




Senin, 16 Agustus 2010

Ibukota (1)

Sekedar menambahkan posting sebelumnya, saya ingin memperlihatkan kondisi traffic di akhir dekade 60 an.Sekitar Pancoran Tebet masih lenggang yang tersisa mungkin beberapa pohon cemara yang tampak disisi kiri. Bis masih microbus buatan Mercy, dengan halte khas seperti yang tampak didepan MBAU. Bundaran (roundabout) masih efektif tanpa dibantu oleh Traffic Light. (Foto ini berasal dari beberapa website tapi saya belum mendapatkan pembuatnya ..terima kasih deh.... ijin untuk dishare di Blog ini)
Sementara itu bisa dibandingkan dengan foto berikut (foto bersumber dari rakyatmerdeka.co.id ) ini saja belum pakai lajur busway. Sungguh begitu kontras kondisi di koridor Gatot Subroto - Haryono MT sekarang ini






Nah yang ada Buswaynya ini (diambil oleh Wisnuwidiantoro dari Kompas)

Minggu, 15 Agustus 2010

Ibukota

Teman saya Adelaidean sempat nulis komentar kenapa Mind Transpostation nggak posting masalah macet di ibukota yang diramaikan media masa di beberapa minggu terakhir bulan Juli ini.

Sebetulnya saya sudah pernah buat posting sedikit mengenai hal ini dua setengah tahun yang lalu di “
Kalau saya jadi PENGUASAHA (1)” dan “Kalau saya jadi PENGUASAHA (2)” di Januari tahun 2008, namun saya kira perlu ditambah lagi kali ini,.. tentunya dengan kondisi data dan fakta yang terjadi terakhir.

Mulai dari sorotan berbagai lapisan masyarakat tentang kemacetan yang parah baik di arteri utama sampai di jaringan jalan lokal di seluruh Jabotabek yang konon nilai ”keborosannya” dapat mencapai 5 triliun setahunnya, kemudian sorotan mengenai iringan kendaraan pejabat yang berdampak kepada “Kemacetan” pengguna jalan lainnya.
Kegerahan masyarakat juga tercermin dari dikecamnya kondisi transportasi umum yang tidak memadai, tercermin pula dari perilaku pengemudi kendaraan yang semakin anarkis.
Wong namanya jaman sekarang, kondisi tersebut tentu jadi topik menarik untuk media massa, yang kemudian di bahas dari sisi akademis, dari sisi bisnis sampai dengan dari sisi politis.
Usulan dan komentar (dengan latar belakang pengusul yang berbeda beda) ya bermunculan : mulai pembatasan usia kendaraan, Busway ditambah MRT dibangun, road pricing diterapkan, parkir dinaikkan tarifnya, pemindahan Ibukota….. sampai dengan usulan agar Presiden segera membentuk Satgas pemecahan masalah Transportasi di Jakarta.

Solusinya gimana.?, sebetulnya sudah ada banyak alternatif dari banyak studi tentang transportasi Jabotabek, ada belasan studi telah dilakukan baik dari instansi pusat maupun daerah sejak beberapa puluh tahun yang lalu dengan biaya yang milyaran juga.
Lantas kenapa pula kondisi tetap seperti tidak terkendali dan tidak ada harapan?.
Sebagian mengatakan bahwa perkara kemacetan dan transportasi harus dilihat dari multi disiplin…. Halaah memangnya studi terdahulu nggak melakukan pendekatan secara multi disiplin ?. Tanya saja sama konsultan yang melakukan (Lokal maupun Luar ), sudah berapa model yang dikaji untuk pendekatan model traffic/transportation Jabotabek (coba chek buku buku tebal hasil studi di Bappenas, Pemda –Pemda Jabotabek ,Kementerian Perhubungan, Pekerjaan Umum dan Perguruan Tinggi kalau nggak percaya).
Yang dibutuhkan apa dong ?; Leadership, followership, konsistensi, Law enforcement, Kesamaan Visi antar daerah, kompaknya Perencana dengan Politisi dan Policy maker, dan masih banyak lagi mungkin prasyarat yang diperlukan.

TDM (Transport/Travel Demand Management).
Secara teoritis yang diperlukan adalah TDM, yang bentuk dan caranya (strategi yang dikembangkan) bisa bermacam macam.TDM sering didefinisikan sebagai upaya (strategi) yang tujuannya adalah peningkatan efisiensi pada sistem transportasi yang pada intinya adalah pengelolaan pergerakan manusia dan barang secara efisien.
Banyak trategi dan program pelaksanaan yang bisa dilakukan ; pembatasan penumpang kendaraan, pembatasan jenis kendaraan, Bus Rapid Transit (kalau di kita namanya Busway), Pengaturan pola penggunaan lahan, pengelolaan perparkiran, peningkatan kualitas public transport, road pricing, dan sebagainya. Biasanya yang diprioritaskan adalah strategi perubahan moda transportasi, misalnya bagaimana meng encourage masyarakat untuk berpindah ke sarana transportasi umum.
Ngomongnya sih ‘enak’ tapi ini kan menyangkut masalah sosial ekonomi, bisnis, lingkungan ?... Ya iya laah siapa yang bilang ini hal gampang makanya perlu duduk bersama (..dan hanya untuk kepentingan bersama)

Disini sudah banyak deh orang yang ahli teorinya, dan seperti yang saya sebutkan tadi, hasil studi untuk hal tersebut ada belasan yang tersebar di Institusi Pemerintah Pusat, Daerah dan Institusi Pendidikan Tinggi.
Catatan saya mengenai kelemahan dari langkah yang diambil antara lain adalah :

Perencanaa yang tidak terintegrasi serta inkosistensi pada tahapan pelaksanaannya
Kondisi ini memiliki beberapa penyebab (ini yang perlu dicermati oleh seluruh masyarakat), misalnya Perencanaan yang sinkron antar Daerah (Propinsi, Kabupaten, Kota), hal ini bukan saja dikalangan eksekutif daerah, tetapi juga dikalangan legislatif antar Daerah, dan tentu saja pembagian kewenangan dan sumber daya antar Pusat dan Daerah beserta aturan perundangan yang mendukung hal tersebut.
Memang bukan saja masalah ekonomi, politik tercampur dalam penetapan perencanaan juga masalah kepentingan Bisnis kelompok Bisnis (Investor, penyedia jasa, supplier dsb.).
Inkonsistensi sering terjadi apabila ada perubahan eksekutif atau legislatif, dan kepentingan bisnis.

Evaluasi terhadap program yang pernah dilakukan.
Tentu saja pihak pihak yang melaksanakan policy akan mengatakan bahwa Evaluasi untuk merevisi program sudah dilakukan. Tetapi masyarakat luas perlu diinformasikan juga kan..?
Masih ingat kebijakan Three in One di beberapa ruas jalan arteri primer di Jakarta ?. yang begitu diterapkan langsung di hari yang sama lahirlah profesi “Jockey Three in One” di ibukota. Apakah ini pernah terpikirkan sebelumnya?. Lantas evaluasi terhadap kondisi itu apa?, yang jelas program 3 in 1 tidak se efektif yang direncanakan.
Program Busway yang sudah dicanangkan sampai 10 koridor ?, pelaksanaannya seperti ogah ogahan. Armada yang kurang (kuantitas maupun kualitas), investasi cenderung menjadi boros (sudah dibangun tapi terbengkalai, sampai rusak tanpa pernah dipakai), tingkat kedisiplinan yang berakibat pada banyaknya kecelakaan di jalur busway dan sebagainya.
Ingat perubahan jam masuk sekolah di Ibukota menjadi jam 6.30 pagi ?. Apakah pernah dievaluasi dan kemudian hasilnya dipublikasikan ke Masyarakat?. Kalau nggak efektif lantas apa kebijakannya akan dicabut ?

Untuk masalah busway saya punya komentar yang agak panjang.
Nilai sebuah lajur lalu lintas menurut suatu Capacity Manual adalah sekitar 2000 pcu (Passanger Car Unit/ Satuan Mobil Penumpang) / jam.Kalau setiap kendaraan memuat 2 orang saja, maka satu lajur jalan pada saat jam sibuk akan dilewati oleh 2 x 2000 = 4000 orang/jam.
Untuk bis Transjakarta kapasitas angkut (ideal) bisa 60 orang /bis, dengan jarak antar bis (headway) 10 menit, maka dalam satu jam kapasitas busway kita hanya 60/10 x 60 orang = 360 orang /jam. Lah mana yang lebih efisien dong..?

OK lah kalau bis nya (bis gandeng) bisa diisi 140 orang/bis, dan headwaynya dijadikan tiap 3 menitan, maka kapasitas lajur busway kita menjadi 60/3 x 140 orang = 2800 orang/jam.
It doesn’t make sense... does it ?. Belum lagi perkembangan terakhir akibat dari maraknya pelecehan yang terjadi di Transjakarta, maka akan dicoba pemisahan bis untuk khusus wanita (sudah tentu ini akan lebih mengurangi kapasitas lajur).

Program TDM jadi gagal dong. Inti dari program TDM adalah mengajak masyarakat untuk berpindah moda transportasi (ke transportasi massal), yang terjadi headway mencapai 15 s/d 30 menitan serta kondisi bis yang kurang nyaman (relatif lho), mengakibatkan perpindahan moda transportasi itu tidak terjadi. Memang terakhir setelah ada program sterilisasi lajur, terlihat ada trend peningkatan, tapi sampai kapan..?, kalau sarana dan prasarana gak ditingkatkan ya sama saja.

Demikian tadi beberapa catatan tentang kondisi yang terjadi, lantas apakah saya punya usulan ?, ... tentunya punya laah :
Konsisten dalam program TDM ; Berdayakan lajur busway kalau perlu dikaji apakah bisa dijadikan jalur tram atau light rail yang mempunyai kapasitas angkut lebih baik, Kalau tidak ya armada bisnya diperbanyak dan diperbaiki fasilitasnya.
MRT menjadi mutlak diperlukan, pilihlah investor dan/atau vendor teknologi yang tepat jangan atas dasar pertimbangan politik atau kelompok kecil kepentingan tertentu.
Tata guna lahan di kelola dengan lebih ketat dong (untuk seluruh Pemda, dan oleh eksekutif maupun lagislatif), jangan cuma melihat kepentingan jangka pendek.
Proyek Park and Ride perlu segera diperkenalkan secara baik ke masyarakat (saya pernah bahas di posting yang lalu).
Mau pindah ibukota ?.... pikir yang lebih panjang deeh, dan evaluasi dulu yang pernah dilakukan.

Minggu, 07 Februari 2010

Yogyes !, Tempo Doeloe

Belum lama ini saya sempat pergi ke Yogyakarta mengikuti acara suatu seminar. Saya sempat teringat di acara TV Family Super (dulu namanya Family 100) ada pertanyaan “Kami telah mensurvey seratus responden untuk pertanyaan ; sebutan apa yang dikatakan untuk kota Yogya ?”...
Anda tahu..jawaban tertinggi adalah kota Pelajar, kemudian kota gudeg, dan seterusnya. Benarkah demikian ?, ternyata ada suatu data lain yang mengusik saya. Ternyata data menunjukkan bahwa Yogya merupakan kota nomor 2 di Indonesia untuk terjadinya kasus penggunaan Narkoba (saya dengar dari Radio mengenai data ini), wah ini cukup membuat surprise, dan terus membuat penalaran saya berjalan.
Apakah karena banyaknya pelajar pendatang kemudian jadi banyak pengguna narkoba ?, lantas bagaimana generasi terdidik kita kok malah nggak bisa sadar akan bahaya narkoba, atau ada sebab mendasar lain ?.

Pikiran saya terus berjalan sambil menyimak informasi dari radio di mobil. Tidak terasa sampailah mobil di sebuah Restoran (atau lebih pas disebut Warung modern) yang bernama "Pecel Solo Tempo Doeloe". Resto ini berada beberapa ratus meter dari Monjali, Monumen Jogja Kembali, ke arah Utara.


Settingnya seperti Warung, yang ditengah tengah ruangnya terdapat meja besar tempat diletakkannya makanan (baik makan berat, ringan, jadi maupun racikan), meja dikelilingi oleh bangku panjang tanpa senderan untuk pelanggan yang datang (tentunya disisi lain dari warung juga terdapat bangku bangku panjang untuk menambah kapasitas Warung).
Menunya mempunyai daftar yang cukup panjang, khususnya berisi daftar makanan Jawa tempo dulu yang dimodernkan penampilannya, ada sego krawu, ada pecel sego abang, wedang jahe dan banyak lagi macamnya.
Ornamen didalam dan sekitar Warung cukup unik dengan pernak pernik barang berbau etnik Jawa tentunya.Harga yang dipatok untuk makanan dan “membeli” suasana ndeso modern saya rasa cukup murah, dan ini merupakan daya tarik untuk para pelanggan tetap datang ke tempat itu.Wah menurut saya suasana dan makanan yang disediakan dapat membuat kita bernostalgia tentang makanan makanan kelangenan tempo dulu yang disajikan dengan cara tempo dulu pula... Mak Nyoooeesss deh.


Nah mengenai data statistik yang saya sebutkan di atas... nanti lagi deh membahasnya


.. Pecel sego abang...plus iwak wadher..


Senin, 01 Februari 2010

Route 268

Kalau di Amerika sana ada yang namanya Route 66, suatu Highway yang menghubungkan beberapa Negara Bagian, juga dinyanyikan dalam lagu.
Nah Route 268 bukan nama Highway di Amerika Serikat, saya menamakan ini untuk lajur Busway yang ada di DKI Jakarta.
Kenapa?, karena pada tahun 2009 ( sampai dengan bulan Oktober saja) lajur tersebut ‘berhasil’ mengumpulkan angka insiden atau bahasa terangnya kecelakaan sampai sejumlah 268 kejadian !!.Ini juga karena beberapa koridor Busway belum dioperasikan, kalau sudah pasti angka tersebut akan bertambah.

Dari sekian banyak Kejadian tersebut 12 orang telah tewas, kerugian material juga lumayan. Penyebab pertamanya pasti saya jamin adalah yang berkaitan dengan tingkat kedisiplinan, terus mungkin masalah kondisi sarana dan prasarana yang ada.Sementara ini kita kan sudah menyerahkan DKI pada “ahlinya”, kalau melihat angka insiden/kecelakaan yang tinggi di jalur Busway ini tentu kita berpikir ada sesuatu yang salah (saingannya mungkin Cuma jalur Gaza).
Saya belum pernah membaca, apakah ada suatu review yang dilakukan PEMDA DKI mengenai sarana dan prasarana transportasi berikut perangkat aturan hukumnya. Misalnya review atau evaluasi mengenai pengoperasian Jalur Busway , evaluasi tentang “majunya” jam masuk sekolah menjadi pukul 6.30, atau bagaimana memelihara Jalur Busway yang mangkrak karena belum beroperasinya Bus pada beberapa koridor (idle investment). Belum pernah dioperasikan saja sudah banyak yang rusak.

Nah evaluasi/review tersebut harusnya dilakukan serta disampaikan secara transparan kepada seluruh lapisan masyarakat, jangan hanya dikalangan DPRD saja.

“Get your kicks on route two-six-eight...” begitu kata Nat King Cole.


(ini sih gambar bus lane di Gold coast)

Rabu, 27 Januari 2010

New Zealand ke World Cup

Berita diakhir tahun 2009; Kesebelasan Rusia dan Kesebelasan Irlandia berhasil menyamai prestasi PSSI, “sama sama gak bisa ikut di kancah World Cup tahun 2010 di Afrika Selatan, sama sama nggak bisa membanggakan rakyat dan bangsanya”.
Perbedaannya adalah; bahwa Kesebelasan Irlandia dikalahkan oleh ‘tangannya’ Thiery Henry, Kesebelasan Rusia dikalahkan oleh persaingan yang sangat berat di dalam Group penyisihan, sedangkan PSSI dilanda masalah sangat fundamental, ‘tidak bisa main sepak bola’. Yang dipertunjukkan pemain bola kita seringkali hanyalah Kekasaran Di Lapangan Bola (KDLB), hal yang sangat tidak perlu dilakukan selalu secara berulang dipertontonkan oleh pemain kita, ini sangat tidak profesional. Seharusnya mereka sadar bahwa cedera yang diakibatkan oleh kekasaran akan berakibat rejeki orang yang dicederai akan berkurang bahkan bisa hilang (bukankah pemain lawan juga menggantungkan hidupnya dari Sepak Bola..?)

Sampai kapan kira kira PSSI yang pernah dipimpin oleh seseorang dari balik jeruji penjara ini bisa punya arti di peta persepak bolaan dunia ?. Boro boro peta sepak bola dunia, untuk Piala Asia saja kita tidak bisa ikut (ini juga sebagian sebabnya juga karena permainan kasar sehingga pemain kita kena kartu merah). Untung kita tidak menerapkan sistem “Reward and Punishment” artinya, kalau kita menang pemainnya membawa harum nama bangsa dan kemudian diberi hadiah atau jaminan hidup yang baik tetapi sebaliknya kalau kalah dan membawa malu nama bangsa maka pemain dan pengurusnya diberi hukuman.
Dulu kalau bermain lawan Singapura, diatas kertas dan di atas lapangan kita menang, tapi sekarang.. yang ada was was terus, dan berusaha nyari Dewi Fortuna yang sering ngumpet kalau dicari sama PSSI.

Berita lain di akhir tahun lalu, New Zealand masuk ke putaran World Cup... Nah Lho, negara yang penduduknya hanya berjumlah 4,3 juta orang, lebih sedikit daripada populasi biri-biri nya saja bisa masuk World Cup... Dimane muke lu..!!

The Truth, all the Truth, and nothing but the truth

Unsur Trust semakin dirasakan perlu terbentuk (ataupun dibentuk) pada Bangsa ini. Unsur ini merupakan hasil dari tata nilai yang bernama Integrity yaitu cinta dan setia kepada kebenaran (jangan dibaca ‘kebetulan” ya..), untuk menjadi setia dan cinta kepada kebenaran tidak hanya dibentuk oleh nilai religius saja, ada hal lain yang diperlukan dalam mencampur adonan Integrity dan yang kemudian bermuara kepada Trust, ada bangsa yang minim nilai religi tetapi sangat baik lingkungan integritasnya dan juga sebaliknya.
Yang sering dijadikan ukuran kadar ‘trust’ antara lain adalah sering atau tidaknya kebohongan terjadi.

Beberapa waktu yang lalu saya punya tulisan mengenai teknologi apa yang paling diperlukan oleh Bangsa Indonesia pada masa sekarang ini.Bukan mesin pengganda uang, atau alat pencari deposit minyak, atau alat pencitraan satelit mengenai kekayaan laut di Indonesia.
Yang sangat kita butuhkan saat ini adalah Mesin pendeteksi Kebohongan, “Lie Detector”.
Secara teknis “Lie Detector” mempunyai kemampuan untuk menganalisa antara lain; blood pressure, breath rate pulse, perspiration, arm and leg movement dan lain sebagainya untuk kemudian disimpulkan sebagai BOHONG atau TIDAK BOHONG. Jawabannya semudah YA atau TIDAK, jadi nggak ada yang jawabnya “BOHONG akan tetapi”... atau “TIDAK BOHONG akan tetapi...”

Nah kalau sekarang ini yang kita lihat sehari hari dibelantara kejadian dinegeri ini jawaban selalu tersembunyi dibalik kepentingan-kepentingan tertentu, YA atau TIDAK seringkali ditentukan dari banyaknya/kuatnya suara kepentingan tersebut. Dan secara horizontal masyarakat akan terbelah (tanpa alasan atau integritas). Nilai yang dianut adalah: “musuhnya temenku harus jadi musuhku juga”, atau” temennya temenku pasti juga adalah temenku” dan seterusnya.Polarisasi yang terbentuk tanpa hitungan atau alasan yang baik, tetapi berdasarkan hitung hitungan jumlah suara/massa.

Kembali ke alat ini, coba kita bayangkan berapa banyak efisiensi yang bisa kita lakukan kalau kita mempunyai “Lie Detector” yang canggih. Maka menurut saya Pembuatan Lie Detector yang canggih harus menjadi program unggulan untuk bangsa ini, sehingga pembacaan sumpah : “ I will tell you the truth, all the truth and nothing but the truth..” tidak lagi menjadi penting.

Prof Emil

Sekilas terbaca berita pelantikan Wantimpres yang baru, diantaranya terdapat Bapak Emil Salim.
Teringat beberapa waktu yang lalu sempat bertemu dengan beliau pada suatu acara di kantor, Prof. Emil sebagai pembicara dalam suatu topik mengenai pengembangan jalan di Indonesia.
Beliau bicara cukup panjang dengan membuka wawasan secara kritis mengenai beberapa kekurangan yang kita miliki dalam menetapkan strategical policies pengembangan transportasi di negara ini.

Beliau yang sangat dikenal selain sebagai ekonom adalah juga sebagai pegiat dan pengamat pelestarian lingkungan hidup. Pemikiran perlunya perpindahan dari teknosentris menjadi ekosentris atau dari ‘Values centered on technology’ menjadi ‘values centered on Nature’ menjadi sangat relevan pada kondisi saat ini (meskipun pertemuan mengenai Global Warming di Denmark dianggap gagal mencapai kesepakatan.. he he.).
Hal yang menarik untuk saya (dan ini tentunya nyata terjadi di sini), bahwa pengembangan transportasi kita sangat ‘car focused’, artinya hanya berfokus pada mobil atau pengguna jalan raya , dan ini harus diubah menjadi bagaimana menyediakan suatu ‘transportation services’ suatu penyediaan sistem transportasi yang memadai ‘not just thinking about built another road’.
Dengan begitu ‘spatial planning’ menjadi lebih diutamakan.Pemilihan moda transportasi yang efektif tentu dilakukan dengan baik sehingga kefektifan pengembangan transportasi dapat lebih tercapai.

Prof Emil juga mengatakan bahwa 1 hektar tanah di Jawa yang produktif ini akan sebanding dengan 4 atau bahkan 6 hektar tanah di luar Jawa, jadi pola pikirnya tidak sesederhana bahwa tanah di daerah produktif digantikan dengan sejumlah uang saja atau digantikan dengan sejumlah pepohonan ( atau istilah ekstrimnya ‘penghutanan’) disekitar jalan yang dibangun di Jawa, it’s more than that.
Bicara mengenai alternatif moda transportasi ?.. wah ini tentunya akan menyangkut policy yang berdampak sistemik pada bisnis sarana transportasi.
Produsen mobil dan motor yang sekarang merajai jalan raya tentunya punya sejarah kepentingan yang panjang untuk menjadi pressure group dalam pemilihan moda transportasi di negeri ini.
Lantas setelah jadi Wantimpres (lagi) dalam periode pemerintahan yang sekarang, apakah beliau punya kontribusi untuk perubahan..?

Identitas Indonesia

Saya bukan tukang insinyur dibidang Arsitektur, tetapi kalau kita lihat bangunan dan produk disain konstruksi lainnya yang dapat disebut sebagai Ikon Negara/Bangsa di sini, banyak yang tidak mencerminkan identitas ke Indonesiaan.
Kita sadar bahwa dari Sabang sampai Merauke begitu beragamnya simbol simbol budaya yang terlihat dari bangunan tradisional kita. Memang mungkin menjadi agak sulit untuk mencari suatu bentuk yang dapat mewakili Ke-Indonesiaan didalam mendisain bangunan, khususnya bangunan yang dijadikan Ikon Negara/Bangsa.
Coba kita perhatikan Istana Merdeka di Jakarta, saya yang awam ini tidak dapat menemukan unsur Ke-Indonesiaan disitu, kesannya adalah tipikal ‘Colonial”, mempunyai ruangan yang besar, tinggi dan sepertinya “dingin” dan kaku, pantasnya dihiasi dengan lukisan lukisan yang besar, berkarpet tebal dan berlampu kristal, bergordyn tinggi dan tebal (seperti rumah Bangsawan Eropa pada umumnya ), lantas dimana unsur Indonesianya ?. Coba kalau dikasih ornamen yang berbau etnik tradisional, rasa rasanya sih nggak akan pantes kalau nggak mau dibilang dipaksakan.

Saya sih tidak menyalahkan keberadaan ‘istana’nya sebagai bangunan yang mempunyai nilai sejarah yang tinggi, tetapi kenapa kita tidak mempunyai Istana atau tempat tinggal resmi Kepala Negara atau apapun nama dan fungsinya yang berkaitan dengan simbol negara atau pemerintahan yang mempunyai nilai KeIndonesiaan?
Coba kita tengok Masjid Istiqlal yang besar dan anggun, saya tidak merasakan sentuhan KeIndonesiaan disitu, sama juga dengan gedung wakil rakyat yang menurut saya malah bentuk cangkang dari atapnya sangat tidak sesuai dengan kondisi iklim Indonesia pada umumnya, (yang memerlukan kesan terbuka karena iklim tropis).

Ayo siapa berani membuat sayembara disain “Istana” yang mempunyai Thema Ke-Indonesiaan?.

Sabda Pandita Ratu

Waktu saya masih kecil ketika sedang liburan kesuatu daerah (kota) yang kebetulan mempunyai alun alun, oleh orang tua saya diceritakan bahwa konon pada jaman dahulu apabila ada masyarakat jelata atau seseorang yang merasa tertindas, atau merasa diperlakukan tidak adil, atau punya uneg uneg yang ingin disampaikan ke penguasa tertinggi (Raja, Bupati, Residen), maka rakyat jelata tersebut bisa melakukan tapa Pepe , yang arti harfiahnya menjemurkan diri dipanasnya matahari alun alun.Biasanya kemudian sang Pimpinan kekuasaan akan memanggil yang bersangkutan untuk ditanya apa yang jadi sebab tapa Pepe tersebut dilakukan, setelah itu kemudian masalah atau persoalan akan diputuskan oleh sang bijak untuk diimplementasikan.
Tidak perlu ratusan atau ribuan orang yang melakukan Pepe, hanya satu orang saja sudah cukup untuk mendapat respon dari sang Pemimpin kekuasaan.Dan konon kata cerita, bahwa tindak lanjut implementasinya betul betul dilakukan dan dilakukan dengan betul, sang Pemimpin pegang janji (Sabda Pandita Ratu), satu masalah pun menjadi ‘solved’. Tidak ada jawaban yang ‘ulas-ulas’ saja (hanya dibibir saja) dari Sang Pemimpin.

Konon ber abad kemudian, ditanah yang sama di negeri ini, hal seperti ini juga terjadi, meskipun tidak dengan cara Pepe.Hanya kalau dulu implementasi pemecahan masalahnya pada umumnya workable dan dilakukan dengan baik. Sehingga tingkat kepercayaan bahwa masalah dapat diselesaikan adalah sangat tinggi.
Nah kalau saat ini; apabila kata sudah dititahkan, kemudian pembahasan sudah di’rembug’kan maka seolah olah masalahnya sudah ‘solved’.
Hal semacam ini (maksud saya kalau sudah dirembug secara luas dan melibatkan semua unsur terkait maka dianggap masalah sudah ‘solved’) ; ini terjadi diorganisasi manapun dalam tingkat apapun.
Kalau ada masalah atau risiko asal sudah pernah dirembug, bikin Tim ini bikin Tim itu, rapat koordinasi ini dan itu, nah masalah atau risiko sudah tertangani dan pasti sudah cukup penanganannya, tapi ternyata semua nggak menjawab permasalahan. Dan ini dimuka masyarakat (atau anggota organisasi) sepertinya “sudah dilakukan sesuatu” , everything is under controled, ini yang saya sebut ‘ulas-ulas’ saja (pokoknya sudah dibahas gitu looh..), inipun dilakukan ditengah ‘kepercayaan’ telah menjadi barang yang langka dalam kehidupan bermasyarakat. Jawabannya secara akuntabilitas sangat mudah;” Lho kan sudah dirembug.. kan sudah dibentuk Tim ini dan itu..” just as simple as that.
Ini bukan hanya ada di tataran Pemerintahan atau Organisasi Negara, coba tengok kiri dan kanan anda, di organisasi dimana anda berada misalnya...
Well what do you think about this folks..

Selasa, 13 Oktober 2009

D’you love me ?

Ribut masalah pemaksaan hak secara sepihak atas produk budaya suatu negara menjadi masalah yang mengganjal rasa dan pikiran berbagai pihak di negara ini. Baik yang berkepentingan secara langsung ataupun yang tidak berkepentingan ikut urun suara di pelbagai media.
Makanan, kesenian (syair, lagu, tarian, alat musik), pakaian (Batik, tenun dll), jadi rebutan untuk di daftarkan ke patent.
Kalau sedang merasa kehilangan baru kita ribut ribut. Tapi pernahkah kita bertanya apakah kita punya sistem yang baik untuk melestarikan legacy tersebut, tidak usah lah atas nama bangsa, etnis, agama, akan tetapi atas nama umat manusia sebagai mahluk sosial yang hidup dimuka bumi ini.
Pelestarian produk budaya atau tradisi bukan semata mata untuk kepentingan posessiveness saja tapi untuk kepentingan umat manusia. Coba bagaimana kita bisa punya budaya tari topeng Betawi, atau cerita pada wayang kulit/golek, Mie Baso/somay ?, bukannya dari belahan lain bumi ini ?
Nah kalau untuk kepentingan kebanggaan bangsa yang ada unsur posessiveness nya kita jadi ( merasa) perlu untuk didaftarkan untuk mendapat pengakuan, dipublikasikan dan sebagainya, maka ada satu syarat lagi yang harus kita miliki... yaitu kita harus MENCINTAINYA, dan dengan rasa sayang kita harus mampu memeliharanya.
Coba tanya; berapa banyak dari kita yang mengetahui tentang tarian tradisi daerah tertentu, dan tanya lagi berapa dari kita yang ikut mempelajarinya atau menganjurkan kepada anak anaknya untuk ikut belajar tarian tersebut.
Belum lagi mengenai produk sastra, produk makanan, bahkan abjad/huruf daerah tertentu dan lain sebagainya. Apakah kita turut memperhatikan dan ikut memeliharanya?
Kalau kita nggak pernah mencintai dan menyayanginya, kenapa juga kalo bangsa lain ingin memilikinya kita jadi sewot..?

Kalau gak ingin CENDOL atau DAWET diakui oleh orang lain, apakah anda sudah pernah tau bagaimana cendol dibuat ?, di daerah mana saja dan untuk kepentingan apa saja makanan itu disediakan ?, kenapa ada acara Dodol Dawet (jualan cendol) pada upacara pernikahan .... ?
Misalnya begitu lho...

D’you still love me now..? or you just don’t care about it..

HOMO GLOBULUS 2

Tepat setahun yang lalu saya pernah posting bertajuk Homo Globulus, waktu itu saya melihat bahwa ternyata efek global sangat terasa pada kondisi perekonomian kita (financial crisis di Amerika pengaruhnya secara langsung dan ‘seketika’ dapat dirasakan di negeri ini). Betapa efek global itu dapat kita rasakan (manfaat maupun mudaratnya) dengan serta merta.
Selain Homo Ludens kita sekarang juga menjadi Homo Globulus, ‘semua’ bisa berkomunikasi dengan ‘semua’, ‘semua’ bisa menjadi bagian dari ‘semua’ , mau tidak mau suka atau tidak suka kita menjadi mahluk yang sangat terpengaruh dan dapat berpengaruh didalam efek global.Setahun yang lalu mungkin pengguna Facebook di Indonesia masih separuh dari hari ini, inilah betapa kita memang Homo Ludens dan sekaligus Homo Globulus , semua ingin informasi dari semua,dan semua ingin memberi informasi tentang diri masing masing, bukan main... the power of information.