Jumat, 21 Desember 2007

Superman is Dead


Memang ini adalah nama sebuah group Band beraliran punk rock dari Bali (gambar disebelah).
Tetapi arah tulisan saya tidak kesitu. Saya bertemu dengan salah satu senior dan dia juga sering menjadi inspirator saya, dia bilang pada saya ”..Superman is dead..”. Wah hebat juga saya pikir, dengan usia seperti dia yang more then fifty kok masih menyimak Band yang disukai ABG.
Tapi rupanya yang dia maksud adalah bahwa kecenderungan yang ada sekarang di dunia, tidak lagi ”superman minded”, atau perlu seseorang yang perfect, super serba bisa/hebat.
No more Jack Welch atau Lee Iacocca (para CEO jawara), untuk duduk jadi manager di suatu perusahaan. Yang dibutuhkan bukan lagi ‘Superman’ tapi diperlukan ‘Superteam’.
Hal ini perlu permenungan sejenak. Coba kita lihat juara Euro Cup sekarang adalah Yunani, juara dunianya Italia, dikedua team tersebut (menurut saya) tidak ada superbintang nya. Atau di dunia film; yang lagi ngetop belakangan ini adalah series ”Heroes” kumpulan beberapa jawara aneh, atau ”fantastic four”. Bahkan disequel terakhir Spiderman saja sang jagoan harus berkolaborasi dengan ’new Goblin” untuk melawan musuhnya.

OK deh, pada intinya, membentuk ”the Superteam” akan lebih baik daripada menciptakan seorang ”Superman”. Superteam akan menjadikan iklim (di suatu korporasi) menjadi lebih solid, hangat, dan achievement akan dapat dirasakan bersama (tapi percaya deh ini bukan perkara gampang karena para individualis pasti gak suka).

So..Superman is really dead ?

2 komentar:

WURYANANO mengatakan...

Kerja Team memang lebih bisa diandalkan, apalagi jika Team itu yang memimpin seorang "Superman"... pasti bisa semakin Luar Biasa Prima!

Salam,
Wuryanano

ddwijono mengatakan...

Betul Pak, wah kalau itu benar-benar excelent