Belum lama ini saya sempat pergi ke Yogyakarta mengikuti acara suatu seminar. Saya sempat teringat di acara TV Family Super (dulu namanya Family 100) ada pertanyaan “Kami telah mensurvey seratus responden untuk pertanyaan ; sebutan apa yang dikatakan untuk kota Yogya ?”...
Anda tahu..jawaban tertinggi adalah kota Pelajar, kemudian kota gudeg, dan seterusnya. Benarkah demikian ?, ternyata ada suatu data lain yang mengusik saya. Ternyata data menunjukkan bahwa Yogya merupakan kota nomor 2 di Indonesia untuk terjadinya kasus penggunaan Narkoba (saya dengar dari Radio mengenai data ini), wah ini cukup membuat surprise, dan terus membuat penalaran saya berjalan.
Apakah karena banyaknya pelajar pendatang kemudian jadi banyak pengguna narkoba ?, lantas bagaimana generasi terdidik kita kok malah nggak bisa sadar akan bahaya narkoba, atau ada sebab mendasar lain ?.
Pikiran saya terus berjalan sambil menyimak informasi dari radio di mobil. Tidak terasa sampailah mobil di sebuah Restoran (atau lebih pas disebut Warung modern) yang bernama "Pecel Solo Tempo Doeloe". Resto ini berada beberapa ratus meter dari Monjali, Monumen Jogja Kembali, ke arah Utara.
Settingnya seperti Warung, yang ditengah tengah ruangnya terdapat meja besar tempat diletakkannya makanan (baik makan berat, ringan, jadi maupun racikan), meja dikelilingi oleh bangku panjang tanpa senderan untuk pelanggan yang datang (tentunya disisi lain dari warung juga terdapat bangku bangku panjang untuk menambah kapasitas Warung).
Menunya mempunyai daftar yang cukup panjang, khususnya berisi daftar makanan Jawa tempo dulu yang dimodernkan penampilannya, ada sego krawu, ada pecel sego abang, wedang jahe dan banyak lagi macamnya.
Ornamen didalam dan sekitar Warung cukup unik dengan pernak pernik barang berbau etnik Jawa tentunya.Harga yang dipatok untuk makanan dan “membeli” suasana ndeso modern saya rasa cukup murah, dan ini merupakan daya tarik untuk para pelanggan tetap datang ke tempat itu.Wah menurut saya suasana dan makanan yang disediakan dapat membuat kita bernostalgia tentang makanan makanan kelangenan tempo dulu yang disajikan dengan cara tempo dulu pula... Mak Nyoooeesss deh.
Nah mengenai data statistik yang saya sebutkan di atas... nanti lagi deh membahasnya
.. Pecel sego abang...plus iwak wadher..
Minggu, 07 Februari 2010
Yogyes !, Tempo Doeloe
posted by
Mind Transportation
at
Minggu, Februari 07, 2010
2
comments
Label: documentation, hobby
Senin, 01 Februari 2010
Route 268
Kalau di Amerika sana ada yang namanya Route 66, suatu Highway yang menghubungkan beberapa Negara Bagian, juga dinyanyikan dalam lagu.
Nah Route 268 bukan nama Highway di Amerika Serikat, saya menamakan ini untuk lajur Busway yang ada di DKI Jakarta.
Kenapa?, karena pada tahun 2009 ( sampai dengan bulan Oktober saja) lajur tersebut ‘berhasil’ mengumpulkan angka insiden atau bahasa terangnya kecelakaan sampai sejumlah 268 kejadian !!.Ini juga karena beberapa koridor Busway belum dioperasikan, kalau sudah pasti angka tersebut akan bertambah.
Dari sekian banyak Kejadian tersebut 12 orang telah tewas, kerugian material juga lumayan. Penyebab pertamanya pasti saya jamin adalah yang berkaitan dengan tingkat kedisiplinan, terus mungkin masalah kondisi sarana dan prasarana yang ada.Sementara ini kita kan sudah menyerahkan DKI pada “ahlinya”, kalau melihat angka insiden/kecelakaan yang tinggi di jalur Busway ini tentu kita berpikir ada sesuatu yang salah (saingannya mungkin Cuma jalur Gaza).
Saya belum pernah membaca, apakah ada suatu review yang dilakukan PEMDA DKI mengenai sarana dan prasarana transportasi berikut perangkat aturan hukumnya. Misalnya review atau evaluasi mengenai pengoperasian Jalur Busway , evaluasi tentang “majunya” jam masuk sekolah menjadi pukul 6.30, atau bagaimana memelihara Jalur Busway yang mangkrak karena belum beroperasinya Bus pada beberapa koridor (idle investment). Belum pernah dioperasikan saja sudah banyak yang rusak.
Nah evaluasi/review tersebut harusnya dilakukan serta disampaikan secara transparan kepada seluruh lapisan masyarakat, jangan hanya dikalangan DPRD saja.
“Get your kicks on route two-six-eight...” begitu kata Nat King Cole.
(ini sih gambar bus lane di Gold coast)
posted by
Mind Transportation
at
Senin, Februari 01, 2010
0
comments
Label: Celoteh, documentation, profession
Rabu, 27 Januari 2010
New Zealand ke World Cup
Berita diakhir tahun 2009; Kesebelasan Rusia dan Kesebelasan Irlandia berhasil menyamai prestasi PSSI, “sama sama gak bisa ikut di kancah World Cup tahun 2010 di Afrika Selatan, sama sama nggak bisa membanggakan rakyat dan bangsanya”.
Perbedaannya adalah; bahwa Kesebelasan Irlandia dikalahkan oleh ‘tangannya’ Thiery Henry, Kesebelasan Rusia dikalahkan oleh persaingan yang sangat berat di dalam Group penyisihan, sedangkan PSSI dilanda masalah sangat fundamental, ‘tidak bisa main sepak bola’. Yang dipertunjukkan pemain bola kita seringkali hanyalah Kekasaran Di Lapangan Bola (KDLB), hal yang sangat tidak perlu dilakukan selalu secara berulang dipertontonkan oleh pemain kita, ini sangat tidak profesional. Seharusnya mereka sadar bahwa cedera yang diakibatkan oleh kekasaran akan berakibat rejeki orang yang dicederai akan berkurang bahkan bisa hilang (bukankah pemain lawan juga menggantungkan hidupnya dari Sepak Bola..?)
Sampai kapan kira kira PSSI yang pernah dipimpin oleh seseorang dari balik jeruji penjara ini bisa punya arti di peta persepak bolaan dunia ?. Boro boro peta sepak bola dunia, untuk Piala Asia saja kita tidak bisa ikut (ini juga sebagian sebabnya juga karena permainan kasar sehingga pemain kita kena kartu merah). Untung kita tidak menerapkan sistem “Reward and Punishment” artinya, kalau kita menang pemainnya membawa harum nama bangsa dan kemudian diberi hadiah atau jaminan hidup yang baik tetapi sebaliknya kalau kalah dan membawa malu nama bangsa maka pemain dan pengurusnya diberi hukuman.
Dulu kalau bermain lawan Singapura, diatas kertas dan di atas lapangan kita menang, tapi sekarang.. yang ada was was terus, dan berusaha nyari Dewi Fortuna yang sering ngumpet kalau dicari sama PSSI.
Berita lain di akhir tahun lalu, New Zealand masuk ke putaran World Cup... Nah Lho, negara yang penduduknya hanya berjumlah 4,3 juta orang, lebih sedikit daripada populasi biri-biri nya saja bisa masuk World Cup... Dimane muke lu..!!
posted by
Mind Transportation
at
Rabu, Januari 27, 2010
1 comments
The Truth, all the Truth, and nothing but the truth
Unsur Trust semakin dirasakan perlu terbentuk (ataupun dibentuk) pada Bangsa ini. Unsur ini merupakan hasil dari tata nilai yang bernama Integrity yaitu cinta dan setia kepada kebenaran (jangan dibaca ‘kebetulan” ya..), untuk menjadi setia dan cinta kepada kebenaran tidak hanya dibentuk oleh nilai religius saja, ada hal lain yang diperlukan dalam mencampur adonan Integrity dan yang kemudian bermuara kepada Trust, ada bangsa yang minim nilai religi tetapi sangat baik lingkungan integritasnya dan juga sebaliknya.
Yang sering dijadikan ukuran kadar ‘trust’ antara lain adalah sering atau tidaknya kebohongan terjadi.
Beberapa waktu yang lalu saya punya tulisan mengenai teknologi apa yang paling diperlukan oleh Bangsa Indonesia pada masa sekarang ini.Bukan mesin pengganda uang, atau alat pencari deposit minyak, atau alat pencitraan satelit mengenai kekayaan laut di Indonesia.
Yang sangat kita butuhkan saat ini adalah Mesin pendeteksi Kebohongan, “Lie Detector”.
Secara teknis “Lie Detector” mempunyai kemampuan untuk menganalisa antara lain; blood pressure, breath rate pulse, perspiration, arm and leg movement dan lain sebagainya untuk kemudian disimpulkan sebagai BOHONG atau TIDAK BOHONG. Jawabannya semudah YA atau TIDAK, jadi nggak ada yang jawabnya “BOHONG akan tetapi”... atau “TIDAK BOHONG akan tetapi...”
Nah kalau sekarang ini yang kita lihat sehari hari dibelantara kejadian dinegeri ini jawaban selalu tersembunyi dibalik kepentingan-kepentingan tertentu, YA atau TIDAK seringkali ditentukan dari banyaknya/kuatnya suara kepentingan tersebut. Dan secara horizontal masyarakat akan terbelah (tanpa alasan atau integritas). Nilai yang dianut adalah: “musuhnya temenku harus jadi musuhku juga”, atau” temennya temenku pasti juga adalah temenku” dan seterusnya.Polarisasi yang terbentuk tanpa hitungan atau alasan yang baik, tetapi berdasarkan hitung hitungan jumlah suara/massa.
Kembali ke alat ini, coba kita bayangkan berapa banyak efisiensi yang bisa kita lakukan kalau kita mempunyai “Lie Detector” yang canggih. Maka menurut saya Pembuatan Lie Detector yang canggih harus menjadi program unggulan untuk bangsa ini, sehingga pembacaan sumpah : “ I will tell you the truth, all the truth and nothing but the truth..” tidak lagi menjadi penting.
posted by
Mind Transportation
at
Rabu, Januari 27, 2010
2
comments
Prof Emil
Sekilas terbaca berita pelantikan Wantimpres yang baru, diantaranya terdapat Bapak Emil Salim.
Teringat beberapa waktu yang lalu sempat bertemu dengan beliau pada suatu acara di kantor, Prof. Emil sebagai pembicara dalam suatu topik mengenai pengembangan jalan di Indonesia.
Beliau bicara cukup panjang dengan membuka wawasan secara kritis mengenai beberapa kekurangan yang kita miliki dalam menetapkan strategical policies pengembangan transportasi di negara ini.
Beliau yang sangat dikenal selain sebagai ekonom adalah juga sebagai pegiat dan pengamat pelestarian lingkungan hidup. Pemikiran perlunya perpindahan dari teknosentris menjadi ekosentris atau dari ‘Values centered on technology’ menjadi ‘values centered on Nature’ menjadi sangat relevan pada kondisi saat ini (meskipun pertemuan mengenai Global Warming di Denmark dianggap gagal mencapai kesepakatan.. he he.).
Hal yang menarik untuk saya (dan ini tentunya nyata terjadi di sini), bahwa pengembangan transportasi kita sangat ‘car focused’, artinya hanya berfokus pada mobil atau pengguna jalan raya , dan ini harus diubah menjadi bagaimana menyediakan suatu ‘transportation services’ suatu penyediaan sistem transportasi yang memadai ‘not just thinking about built another road’.
Dengan begitu ‘spatial planning’ menjadi lebih diutamakan.Pemilihan moda transportasi yang efektif tentu dilakukan dengan baik sehingga kefektifan pengembangan transportasi dapat lebih tercapai.
Prof Emil juga mengatakan bahwa 1 hektar tanah di Jawa yang produktif ini akan sebanding dengan 4 atau bahkan 6 hektar tanah di luar Jawa, jadi pola pikirnya tidak sesederhana bahwa tanah di daerah produktif digantikan dengan sejumlah uang saja atau digantikan dengan sejumlah pepohonan ( atau istilah ekstrimnya ‘penghutanan’) disekitar jalan yang dibangun di Jawa, it’s more than that.
Bicara mengenai alternatif moda transportasi ?.. wah ini tentunya akan menyangkut policy yang berdampak sistemik pada bisnis sarana transportasi.
Produsen mobil dan motor yang sekarang merajai jalan raya tentunya punya sejarah kepentingan yang panjang untuk menjadi pressure group dalam pemilihan moda transportasi di negeri ini.
Lantas setelah jadi Wantimpres (lagi) dalam periode pemerintahan yang sekarang, apakah beliau punya kontribusi untuk perubahan..? 
posted by
Mind Transportation
at
Rabu, Januari 27, 2010
0
comments
Label: people, profession
Identitas Indonesia
Saya bukan tukang insinyur dibidang Arsitektur, tetapi kalau kita lihat bangunan dan produk disain konstruksi lainnya yang dapat disebut sebagai Ikon Negara/Bangsa di sini, banyak yang tidak mencerminkan identitas ke Indonesiaan.
Kita sadar bahwa dari Sabang sampai Merauke begitu beragamnya simbol simbol budaya yang terlihat dari bangunan tradisional kita. Memang mungkin menjadi agak sulit untuk mencari suatu bentuk yang dapat mewakili Ke-Indonesiaan didalam mendisain bangunan, khususnya bangunan yang dijadikan Ikon Negara/Bangsa.
Coba kita perhatikan Istana Merdeka di Jakarta, saya yang awam ini tidak dapat menemukan unsur Ke-Indonesiaan disitu, kesannya adalah tipikal ‘Colonial”, mempunyai ruangan yang besar, tinggi dan sepertinya “dingin” dan kaku, pantasnya dihiasi dengan lukisan lukisan yang besar, berkarpet tebal dan berlampu kristal, bergordyn tinggi dan tebal (seperti rumah Bangsawan Eropa pada umumnya ), lantas dimana unsur Indonesianya ?. Coba kalau dikasih ornamen yang berbau etnik tradisional, rasa rasanya sih nggak akan pantes kalau nggak mau dibilang dipaksakan.
Saya sih tidak menyalahkan keberadaan ‘istana’nya sebagai bangunan yang mempunyai nilai sejarah yang tinggi, tetapi kenapa kita tidak mempunyai Istana atau tempat tinggal resmi Kepala Negara atau apapun nama dan fungsinya yang berkaitan dengan simbol negara atau pemerintahan yang mempunyai nilai KeIndonesiaan?
Coba kita tengok Masjid Istiqlal yang besar dan anggun, saya tidak merasakan sentuhan KeIndonesiaan disitu, sama juga dengan gedung wakil rakyat yang menurut saya malah bentuk cangkang dari atapnya sangat tidak sesuai dengan kondisi iklim Indonesia pada umumnya, (yang memerlukan kesan terbuka karena iklim tropis).
Ayo siapa berani membuat sayembara disain “Istana” yang mempunyai Thema Ke-Indonesiaan?.
posted by
Mind Transportation
at
Rabu, Januari 27, 2010
3
comments
Label: Celoteh, documentation
Sabda Pandita Ratu
Waktu saya masih kecil ketika sedang liburan kesuatu daerah (kota) yang kebetulan mempunyai alun alun, oleh orang tua saya diceritakan bahwa konon pada jaman dahulu apabila ada masyarakat jelata atau seseorang yang merasa tertindas, atau merasa diperlakukan tidak adil, atau punya uneg uneg yang ingin disampaikan ke penguasa tertinggi (Raja, Bupati, Residen), maka rakyat jelata tersebut bisa melakukan tapa Pepe , yang arti harfiahnya menjemurkan diri dipanasnya matahari alun alun.Biasanya kemudian sang Pimpinan kekuasaan akan memanggil yang bersangkutan untuk ditanya apa yang jadi sebab tapa Pepe tersebut dilakukan, setelah itu kemudian masalah atau persoalan akan diputuskan oleh sang bijak untuk diimplementasikan.
Tidak perlu ratusan atau ribuan orang yang melakukan Pepe, hanya satu orang saja sudah cukup untuk mendapat respon dari sang Pemimpin kekuasaan.Dan konon kata cerita, bahwa tindak lanjut implementasinya betul betul dilakukan dan dilakukan dengan betul, sang Pemimpin pegang janji (Sabda Pandita Ratu), satu masalah pun menjadi ‘solved’. Tidak ada jawaban yang ‘ulas-ulas’ saja (hanya dibibir saja) dari Sang Pemimpin.
Konon ber abad kemudian, ditanah yang sama di negeri ini, hal seperti ini juga terjadi, meskipun tidak dengan cara Pepe.Hanya kalau dulu implementasi pemecahan masalahnya pada umumnya workable dan dilakukan dengan baik. Sehingga tingkat kepercayaan bahwa masalah dapat diselesaikan adalah sangat tinggi.
Nah kalau saat ini; apabila kata sudah dititahkan, kemudian pembahasan sudah di’rembug’kan maka seolah olah masalahnya sudah ‘solved’.
Hal semacam ini (maksud saya kalau sudah dirembug secara luas dan melibatkan semua unsur terkait maka dianggap masalah sudah ‘solved’) ; ini terjadi diorganisasi manapun dalam tingkat apapun.
Kalau ada masalah atau risiko asal sudah pernah dirembug, bikin Tim ini bikin Tim itu, rapat koordinasi ini dan itu, nah masalah atau risiko sudah tertangani dan pasti sudah cukup penanganannya, tapi ternyata semua nggak menjawab permasalahan. Dan ini dimuka masyarakat (atau anggota organisasi) sepertinya “sudah dilakukan sesuatu” , everything is under controled, ini yang saya sebut ‘ulas-ulas’ saja (pokoknya sudah dibahas gitu looh..), inipun dilakukan ditengah ‘kepercayaan’ telah menjadi barang yang langka dalam kehidupan bermasyarakat. Jawabannya secara akuntabilitas sangat mudah;” Lho kan sudah dirembug.. kan sudah dibentuk Tim ini dan itu..” just as simple as that.
Ini bukan hanya ada di tataran Pemerintahan atau Organisasi Negara, coba tengok kiri dan kanan anda, di organisasi dimana anda berada misalnya...
Well what do you think about this folks..
posted by
Mind Transportation
at
Rabu, Januari 27, 2010
3
comments
Selasa, 13 Oktober 2009
D’you love me ?
Ribut masalah pemaksaan hak secara sepihak atas produk budaya suatu negara menjadi masalah yang mengganjal rasa dan pikiran berbagai pihak di negara ini. Baik yang berkepentingan secara langsung ataupun yang tidak berkepentingan ikut urun suara di pelbagai media.
Makanan, kesenian (syair, lagu, tarian, alat musik), pakaian (Batik, tenun dll), jadi rebutan untuk di daftarkan ke patent.
Kalau sedang merasa kehilangan baru kita ribut ribut. Tapi pernahkah kita bertanya apakah kita punya sistem yang baik untuk melestarikan legacy tersebut, tidak usah lah atas nama bangsa, etnis, agama, akan tetapi atas nama umat manusia sebagai mahluk sosial yang hidup dimuka bumi ini.
Pelestarian produk budaya atau tradisi bukan semata mata untuk kepentingan posessiveness saja tapi untuk kepentingan umat manusia. Coba bagaimana kita bisa punya budaya tari topeng Betawi, atau cerita pada wayang kulit/golek, Mie Baso/somay ?, bukannya dari belahan lain bumi ini ?
Nah kalau untuk kepentingan kebanggaan bangsa yang ada unsur posessiveness nya kita jadi ( merasa) perlu untuk didaftarkan untuk mendapat pengakuan, dipublikasikan dan sebagainya, maka ada satu syarat lagi yang harus kita miliki... yaitu kita harus MENCINTAINYA, dan dengan rasa sayang kita harus mampu memeliharanya.
Coba tanya; berapa banyak dari kita yang mengetahui tentang tarian tradisi daerah tertentu, dan tanya lagi berapa dari kita yang ikut mempelajarinya atau menganjurkan kepada anak anaknya untuk ikut belajar tarian tersebut.
Belum lagi mengenai produk sastra, produk makanan, bahkan abjad/huruf daerah tertentu dan lain sebagainya. Apakah kita turut memperhatikan dan ikut memeliharanya?
Kalau kita nggak pernah mencintai dan menyayanginya, kenapa juga kalo bangsa lain ingin memilikinya kita jadi sewot..?
Kalau gak ingin CENDOL atau DAWET diakui oleh orang lain, apakah anda sudah pernah tau bagaimana cendol dibuat ?, di daerah mana saja dan untuk kepentingan apa saja makanan itu disediakan ?, kenapa ada acara Dodol Dawet (jualan cendol) pada upacara pernikahan .... ?
Misalnya begitu lho...
D’you still love me now..? or you just don’t care about it..

posted by
Mind Transportation
at
Selasa, Oktober 13, 2009
4
comments
Label: Celoteh
HOMO GLOBULUS 2
Tepat setahun yang lalu saya pernah posting bertajuk Homo Globulus, waktu itu saya melihat bahwa ternyata efek global sangat terasa pada kondisi perekonomian kita (financial crisis di Amerika pengaruhnya secara langsung dan ‘seketika’ dapat dirasakan di negeri ini). Betapa efek global itu dapat kita rasakan (manfaat maupun mudaratnya) dengan serta merta.
Selain Homo Ludens kita sekarang juga menjadi Homo Globulus, ‘semua’ bisa berkomunikasi dengan ‘semua’, ‘semua’ bisa menjadi bagian dari ‘semua’ , mau tidak mau suka atau tidak suka kita menjadi mahluk yang sangat terpengaruh dan dapat berpengaruh didalam efek global.Setahun yang lalu mungkin pengguna Facebook di Indonesia masih separuh dari hari ini, inilah betapa kita memang Homo Ludens dan sekaligus Homo Globulus , semua ingin informasi dari semua,dan semua ingin memberi informasi tentang diri masing masing, bukan main... the power of information.
posted by
Mind Transportation
at
Selasa, Oktober 13, 2009
0
comments
Kamis, 28 Mei 2009
Fans Club ‘Rasaonal’
Konon di negara Endonesah sedang diadakan Pemilihan untuk memilih kepala negara dan kepala pemerintahan.
Beberapa Calon telah ditetapkan untuk dapat dipilih. Penetapan calon di Endonesah juga menggunakan kriteria minimal yang diperoleh dari banyaknya suara pendukung calon tersebut melalui partai partai.
Sayangnya di negara tersebut peran partai ditengah masyarakat hampir tidak ada alias nyaris nihil, namun kebetulan rakyat nya sangat ‘tahu diri’ (kalau gak mau disebut bodoh), manutan saja dan tentu saja ini juga terbentuk dari kurangnya pendidikan yang dimiliki, yang juga disebabkan oleh miskinnya masyarakat disamping biaya pendidikan yang mahal.
Pemilihan juga dilaksanakan dengan cara pemilihan langsung orang yang bersangkutan, one man/woman one vote.
Dan dinegara yang sebagian besar penduduknya menyukai acara sinetron dan gossip ini menetapkan pilihan pimpinan mereka lebih banyak dengan “rasa”onal dan bukan dengan rasional.
“Rasa” nya si A lebih cakep dari si B, “Rasa” nya si C lebih tidak bermasalah ketimbang si D dan seterusnya.
Atau pokoknya si E deh, tanpa penjelasan spesifik kenapa dia lebih suka calon tersebut (bukankah ini juga menyangkut masalah emotion atau ‘rasa’ ).
Yaa, betul sekali... seperti di Indonesian Idol, atau acara ajang penelusuran kemampuan seseorang melalui polling SMS. “Rasa”onal akan lebih berarti daripada rasional.
Contohnya kalau ada kontestan yang ‘sepertinya’ terdzalimi akan mendapat suara tambahan dari publik
Lho lantas platform Partai pengusung calon, dan program kerja sang calon ikut dijadikan referensi nggak sama masyarakat Endonesah ?
Sepertinya sih nggak terlalu dipentingkan, soalnya ya begitu lah, dengan kondisi ‘rasa’onal tadi yang terpenting adalah pencitraan didepan rakyat.
Laah kerjaan partai disana gimana dong ?
Ini yang membingungkan, soalnya masyarakat sana juga tidak pernah merasakan ada kerja nyata dari partai partai tersebut.
Menurut mereka definisi Partai adalah sekumpulan orang berseragam yang mengelola Fans Club (dari orang yang dijagokan tentunya), yang kegiatannya hanya sibuk setiap 5 tahun sekali, untuk membentuk pencitraan tertentu sebagai jalan pemenangan.
Yaaah seperti layaknya seorang penyanyi atau club sepak bola, apapun yang dilakukan oleh penyanyi atau club sepak bola tersebut akan selalu dianggap baik dan benar oleh para Fans nya. Suasana inilah yang dipelihara terus oleh “pengelola” Fans Club (eh... Partai) tersebut.
Itu semua di Endonesah loh..
posted by
Mind Transportation
at
Kamis, Mei 28, 2009
3
comments
Kamis, 16 April 2009
Cah Workshop ke Queensland (1)
Wah jarang terjadi, Cah Workshop melancong ke Negeri kanguru, tepatnya ke Brisbane, Queensland. Kebetulan Paguyuban Audit Internal Australia (IIA Australia) mengadakan Konferensi tahunan se Asia Pacific di akhir Maret 2009. Thema yang diusung tahun ini Internal Audit : Trusted and Valued in challenging times.
Memang “being Trusted” dan “having Valued” menjadi sangat berat di masa sulit (Global Financial Crisis) ini. Level dari “Reliable Assurance” yang seperti apa yang diperlukan oleh kita setelah melihat berjatuhannya Perusahaan besar dan perbankan di dunia di dua tahun terakhir ini. Demikian kira kira seruan dari Konferensi ini.
…INTERNAL AUDITORS, …YOU GOTTA LOVE ‘EM… kata Key Note Speaker nya
Saya tidak ingin bahas masalah Krisis Global tersebut. Dipostingan kali ini dengan sedapat mungkin untuk tidak “Narsis” saya cuma ingin share menampilkan beberapa catatan Cah workshop yang ndeso di negeri orang yang sudah modern.
Acara yang disusun oleh Panitia (dari Jakarta) sangat padat, selain Konferensi kami juga mengikuti panel diskusi (yaah semacam bench marking nya para anggota DPR atau anggota KPU kalau lagi pergi keluar negeri gitu laaah).
Venue acara dilaksanakan di South Bank , Brisbane Convention and Exhibition Center selama 4 hari penuh.
Sudah pernahkan anda berada disuatu ruangan bersama 600 an orang yang mostly berpredikat AUDITOR dari 12 Negara?. Naaah itu yang saya alami.
…INTERNAL AUDITORS, …YOU GOTTA LOVE ‘EM… demikian Jargon dari penyelenggara yang di ulang ulang terus (memang biasanya Internal Auditor kagak disenengin yaa? ).
Topik pembahasan sangat beragam, dari mulai masalah sub prime mortgage, global warming, Risk Management, ICT, sampai ke efektifitas Lie detector. Pokoknya macem macem deh (ya namanya juga suka sukanya auditor Australia aja).
Topik posting ini gak kearah per auditan tapi ke cerita keseharian di Brisbane yang berpenduduk paling banter 3 jutaan sebagai kota ketiga terbesar di Aussie setelah Sydney dan Melbourne.
South Bank, Brisbane;
Wilayah South Bank memang menjadi tempat rekreasi kota Brisbane, disitulah tersedia fasilitas Sosial Budaya bagi penghuni kota.Letaknya hanya berada diseberang (sungai ) dari CBD nya. Beberapa catatan saya tentang kota ini ;
Street Beach :
Brisbane dibelah oleh Brisbane River. Meskipun tidak ada pantainya, namun di wilayah South Bank mereka menyediakan pantai imitasi di tepian sungainya yang mereka namakan “Street Beach”
Brisbane River.. dan Ferry :
Ferrry di Brisbane River selain jadi sarana wisata juga digunakan sebagai moda transportasi ( tapi orang Brisbane yang naik ini … pasti iseng banget yaa)
Parkir dan Toll :
Emang enak parkir di perkotaan tuh liat aja tarifnya 15 AUSD
Kalau jembatan tolnya punya 5 jenis golongan kendaraan (paling murah tarifnya 1,3 AUSD untuk sepeda motor dan 2,9 AUSD untuk sedan ).
Tapi mereka punya beberapa ragam cara pembayaran tol.
Makanan :
Maklum, karena Cah Workshop adalah wong ndeso gak ketemu nasi agak susyah juga …. lihat aja model makanannya.
Eeh sekali ada nasi modelnya kayak gini (gak jelas), nasi yang nyaris mateng di beri wijen dan ayam pake tusukan, dikasih saus mangga..??
posted by
Mind Transportation
at
Kamis, April 16, 2009
5
comments
Label: documentation, people
Binari dan Pemilu
Dalam kurun waktu 5 tahun kita yang tinggal di Jakarta, paling tidak kita ikut 3 kali Pemilihan ; Pil Gub, Pil Leg, dan Pil Pres.
Pada saat ituah orang bilang, kita “Memberikan Suara” kita didalam Pemilu.
Nah saya kok agak sependapat dengan apa yang dikatakan Gunawan Muhammad di Catatan Pinggirnya TEMPO ;”.. setelah kita mencontreng (atau mencoblos..jaman sebelumnya), maka saat itu pulalah kita mengubah diri kita menjadi satu “1” satuan numerik..” demikian katanya.
Memang sejak saat itu Keterwakilan kita dalam berpikir, ber’suara’ mengemukakan pendapat, dan bertindak berubah menjadi satu satuan numerik untuk memilih orang atau Partai tertentu yang nota bene tidak terlalu kita kenal baik secara kasat ataupun secara emosional dengan mendalam (kecuali kalau memang dia itu saudara/teman/tetangga kita), begitu juga dengan Partai (yang kantornya saja sibuknya cuma kalau mau Pemilu).
Bukankah ini ambiguiti ya ? katanya kita memberikan suara tapi kok malah berubah menjadi numerik.. he he. Mendingan posting di Blog kan ? bebas berpikir dan “bersuara” mengemukakan pendapat yang norak sekalipun.
Nah demikian pula sebaliknya, kalau gak ikutan memilukan diri berarti kita berubah jadi Nihil alias “0” secara legal kita menjadi tiada, baik yang disengaja atau yang tidak terdaftar di DPT yang diributkan itu.
Jadi ya begitu, dalam sekejap 171 juta orang Indonesia yang punya hak suara menjadi deretan bilangan Binari.. 1 dan 0 .. dan sekaligus saat itu juga kita “kehilangan” suara kita yang asli untuk diwakilkan ke pada seseorang atau sesuatu yang (rata-rata) tidak kita kenal betul.
Ngomong ngomong mengenai bilangan Binari saya jadi ingat cara kerja komputer ( menggunakan bahasa Binari ). Kalau saja Bill Gates si Raja Komputer dan Raja uang itu kita sewa untuk membantu kita jadi anggota KPU, pasti deh masalah kerumitan kerja yang sekarang muncul seperti administrasi DPT atau komunikasi data untuk tabulasi, tidak akan terjadi.
Atau mungkin dia malah berkata :” aneh ya … hardware dan software yang umum dipakai didunia kok kalau dipakai di sini jadi Lemoooot..? karena iklim atau orangnya ya ?”
posted by
Mind Transportation
at
Kamis, April 16, 2009
0
comments
Kamis, 09 April 2009
Are You men..Contreng ?
Sempat dibahas di Metro TV tadi malam bahwa Indeks Pengembangan Masyarakat (Human Development Index) untuk Indonesia berada di posisi ke 107, dibawah Vietnam dan Palestina di urutan 105 dan 106. … sangat mengharukan. Lantas kemana saja pengurus bangsa ini, baik yang formal maupun yang non formal ?
Hari ini bangsa ini akan menjadi pelaku sejarah dari suatu proses pemilihan keterwakilan rakyat dalam suatu lembaga terhormat, yang tentu saja mempunyai tanggung jawab dan kewenangan untuk menjadi pengurus bangsa yang besar ini.
Apakah keterwakilan kita masih tersisa dan terasa disana ?, makin tingginya angka KTM (Kelompok Tidak Memilih) dapat dijadikan indikator hal tersebut. Dibanyak kesempatan himbauan untuk tidak menjadi KTM menjadi lebih digalakkan, ini tentu sangat positif dalam rangka menjaga legitimasi hasil Pemilihan serta menghindari kemubaziran biaya yang telah dikeluarkan.
Tapi gimana yaaa. Ini masalah trust juga sih pada akhirnya. Coba saja simak bagaimana Acara Akbar ini dipersiapkan; dari masalah distribusi logistik yang keteteran, akuntabilitas masalah DPT dan masalah pengawasan yang rentan pelanggaran. Lantas juga dari sisi pesertanya, ada Calon yang ketangkap tangan sedang melakukan tindakan yang nggak pantas. Boro boro kenal calonnya, Partai nya saja kita terkadang nggak tahu platformnya, terus mau gabung (koalisi) sama yang mana juga belum tahu.
Kira kira pantas saja kan KTM makin tinggi dan menyanyikan ; “ Jangan ada KITA diantara DUSTA” ..(eh terbalik ya syairnya..).
Naaah.. barangkali kalau Pemilunya memilih tanda gambar seperti yang ini, mungkin KTM bisa dikurangi. I wish… bisa seperti ini kenyataannya.
Selamat memilukan diri saudara saudara sekalian….
posted by
Mind Transportation
at
Kamis, April 09, 2009
3
comments
Senin, 09 Februari 2009
Tidak Mencalonkan Diri
Saya mengundurkan diri dari Pencalonan Kepala Kampung tahun ini. Tadinya saya pikir akan menjadi prioritas penting untuk menjadi ‘orang penting’ di Kampung ini, seperti kata banyak orang bahwa hidup ini harus bermanfaat bagi masyarakat dan saya rasa itu menjadi motivasi besar dan cukup menjadi alasan untuk mencalonkan diri.
Tapi itu adalah beberapa waktu yang lalu.
Setelah melihat kenyataan bahwa virus democrazy menjadi tidak terkenali lagi didalam kehidupan sosial dan politik Kampung saya, nggak jelas lagi makna dan tujuannya, penuh intrik, licik dan mungkin klenik (yang jelas berbiaya selangit, silahkan disurvey beberapa banyak uang bertebaran didalam acara pemilihan).
Terlebih setelah disadarkan bahwa bangsa ini memang di ’stereotype’ kan sebagai bangsa yang senang main “trabas”, menginginkan segala sesuatunya secara instan (ini menurut Pak Koentjorojakti yang antropolog). Politik kekerasan sudah banyak jejak rekamnya, budaya keroyokan sudah menjadi pelajaran ekskul di sekolah sekolah; pukul memukul di Perguruan Tinggi, dilapangan olahraga bahkan diruang wakil rakyat yang terhormat.
Karena alasan itu semua, “…dengan ini saya nyatakan .. mengundurkan diri dari pencalonan Kepala Kampung”.
Selanjutnya saya mau bertafakur dan berdoa agar bangsa ini mendapat pelajaran yang terbaik dari apa yang dinamakan Demokrasi, dan semoga tidak banyak korban nyawa, korban harta dan korban kewarasan dalam menjalankannya.
Saya juga berharap agar masyarakat menyadari bahwa pilar tegaknya demokrasi antara lain adalah tingginya moral attitude bangsa ini serta level pendidikan yang cukup bagi masyarakatnya.
(Gilee, Ge Er banget emang siapa juga yang mau milih gue….?)
posted by
Mind Transportation
at
Senin, Februari 09, 2009
5
comments
Kamis, 15 Januari 2009
Pre-paid smart-card
Setahun yang lalu saya pernah membuat posting mengenai Smart-Card disini, dan sekarang (sebenarnya mulai tanggal 3 Januari 2009) mulai diberlakukan (baca “diujilapangankan”) e-Toll Card alias Kartu Prabayar untuk membayar transaksi di gardu Tol.
Bagaimana menggunakannya ?, bagaimana mendapatkannya ?, apa saja manfaatnya ?, menjadi pertanyaan kita semua. Tapi jawabnya cukup sulit dicari, atau memang mungkin “sosialisasi” dan marketingnya masih kurang dilakukan oleh operator. Memang sih syarat dan ketentuan berlakunya dikeluarkan Bank, tapi toh tetap menurut saya operator punya hajat juga untuk menyampaikannya secara massive dengan program yang terukur kepada pelanggan tercintanya, apalagi menurut yang saya baca dari media diharapkan bahwa 30 – 40% pengguna akan memakai kartu ini di 5 tahun kedepan.
Nah kebetulan dari tangan pertama saya sempat melihat bentuk kartunya. Coba bandingkan dengan kartu prabayar versi saya.
Ini ada rekaman pada saat menjelang transaksi di Gerbang Tol, di atas Gerbang Tol tertulis Transaksi E-Toll Card tapi sepertinya disetiap Gardu akan bisa mentransaksikan E-Toll Card
Direkaman ini dapat dilihat cara bertransaksi dengan petugas Tol, sebetulnya sama saja dengan cara transaksi cash yang sekarang, hanya saja uangnya sudah diganti dengan kartu smart E-Toll.Coba dihitung berapa detik bedanya ?
posted by
Mind Transportation
at
Kamis, Januari 15, 2009
6
comments
Label: fantasy, news, profession




