Beberapa waktu yang lalu tepatnya dihari Senin 27 Juni 2011, terjadi kemacetan yang luar biasa hampir disemua jalan arteri utama Ibukota. Kemarahan dan kekesalan menjadi sangat wajar ketika beribu kendaraan hanya dapat berjalan beringsut seperti siput dan terkadang harus berhenti lama, kondisi tersebut terjadi mulai siang hingga tengah malam.Dapat dibayangkan pemborosan sumber daya waktu dan pemborosan bahan bakar minyak akibat kemacetan tersebut.
Kejadian ini disebabkan oleh karena dikuranginya kapasitas jalan akibat perbaikan jembatan di km 9 Jalan Tol Jagorawi arah ke Selatan (Bogor).
Perbaikan jembatan tersebut memang memerlukan manajemen pelaksanaan yang lebih baik sehingga semua pihak dpat lebih mengantisipasi keadaan yang akan terjadi. Selain Manajemen pelaksanan konstruksi, juga manajemen lalu lintas harus dilaksanakan dengan suatu kajian lalu lintas dan jaringan jalan dengan baik.
Apabila diperhatikan pada skema jaringan berikut, ternyata kejadian gangguan lalu lintas yang “HANYA” terjadi di km 9 jalan tol Jagorawi (arah Selatan/Bogor) telah meluluh lantakkan hamper sebagian besar lalu lintas di Jakarta. Dampak yang terjadi sampai beberapa belas kilometer ruas areri utama ibukota, dampak kemacetan mencapai jalan tol Bandara, Arteri Pondok Indah, Tomang, dan sebagian besar Jakarta Utara.
Akan tetapi kemudian pertanyaannya, seberapa mampu lagi kita meningkatkan kualitas metoda pelaksanaan pekerjaan (manajemen pelaksanaan konstruksi) dan manajemen lalu lintas ?, dan pada waktu yang lain tentunya akan ada lagi kegiatan perbaikan jembatan atau pemeliharaan lain dari ruas-ruas jalan di Jabotabek.
Dari kejadian tersebut ternyata dapat kita simpulkan bahwa kondisi transportasi di Ibukota sudah sangat kritis, sangat sensitive sekali terhadap adanya gangguan meskipun gangguan tersebut relative kecil ( misalnya ada satu mobil mogok saja berdampak besar).
Sudah nggak kurang tulisan para ahli transportasi mengenai kondisi transportasi di di wilayah Jabotabek dibahas, dibuat studinya dan sebagainya. Data menunjukkan timpangnya pertumbuhan infrastruktur transportasi dibandingkan dengan pertumbuhan sarana kendaraan pribadi.
Yang paling menonjol adalah tingginya pertumbuhan kepemilikan kendaraan roda dua dan juga perubahan moda transportasi pengguna kendaraan umum yang menurun drastic.
Pengguna bis (bis merupakan transportasi umum yang terbesar di jabotabek) turun dari 38 % menjadi 12.9% saja di tahun terakhir ini.
Skema berikut menggambarkan besaran dari lalu lintas harian rata rata di beberapa jalan tol di wilayah Jabotabek.
Dengan rata rata sekitar 200.000 kendaraan perhari di masing masing ruas, maka masuk akal kalau gangguan sedikit saja di ruas jalan utama di Jakarta, maka lumpuhlah transportasinya, apalagi gangguannya cukup besar seperti pada kasus perbaikan jembatan di Jagorawi.
Transportasi di Ibukota, menurut saya, hanya akan terurai kalau kita; Pertama, segera memiliki transportasi umum masal yang reliable, yang “SANGGUP / MAMPU” untuk memindahkan moda transportasi dari kendaraan pribadi ke sarana transportasi umum masal; Kedua, mulai secara bertahap mengatur dengan tegas pola penggunaan lahan agar sentra aktivitas dapat dikendalikan.
Mari kita ikut mendukung disegerakannya program pelaksanaan sarana dan prasarana transportasi umum masal yang reliable di Ibukota
Rabu, 06 Juli 2011
Ibukota (2)
posted by
Mind Transportation
at
Rabu, Juli 06, 2011
2
comments
Label: documentation, opinion, profession
Senin, 27 Juni 2011
Jujur itu hebat
Di bulan Mei 2011 secara kebetulan saya mewakili perusahaan untuk mengikuti International Conference di Bali. Penyelenggara konperensi ini adalah KPK (komisi Pemberantasan Korupsi) dan OECD, themanya cukup berat “Combating Foreign Bribery in International Business Transaction”. Saya berada dilingkungan Institusi yang berjuang untuk memerangi Korupsi dari berbagai belahan dunia, dan juga mungkin saya waktu itu berada diantara ‘the real Heros’ yaitu para aktivis anti praktek korupsi dari berbagai negeri. Saya katakan demikian karena memang pahlawan yang paling didambakan pada saat ini adalah para manusia yang memiliki integritas super, pemberani dan memiliki visi dan misi yang sangat jelas untuk memberantas korupsi dimanapun didunia ini.
Saya tidak akan membahas materi dalam konferensi yang dibuka oleh SBY ini, dan lepas dari masalah apakah KPK telah melakukan tugasnya dengan baik atau tidak, ada yang menarik perhatian saya dalam penyelenggaraan acara oleh KPK ini.
Kita tentu tahu bahwa selain masalah penindakan, KPK juga menjalankan program pencegahan terjadinya Korupsi, hal ini dilakukan antara lain dengan kampanye kampanye yang bernuansa mengajak masyarakat untuk berjuang melawan tindak korupsi.Kampanye dilakukan baik melalui hal yang serius, misalnya dengan membuat Sistem Pelaporan Pelanggaran (Whistleblowing System), sampai dengan kampanye melalui hal hal sepele seperti mempublikasikan buku buku yang dapat membentuk karakter dan integritas untuk anak anak usia sekolah dasar atau dengan membuat jargon jargon anti korupsi seperti pada foto dibawah ini.
“Jujur itu hebat” itu themanya, menurut saya malah lebih dari itu,.. “jujur itu sehat” (minimal untuk kesehatan bathin, he he..)
Buku buku untuk anak anak
posted by
Mind Transportation
at
Senin, Juni 27, 2011
13
comments
Kamis, 23 Juni 2011
Superman is Dead Part II
>
Dalam beberapa hari di bulan Juni ini salah satu stasiun TV Lokal menyuguhkan sinema serial Superman, dari film yang dibuat tahun 70 an sampai dengan yang diproduksi tahun 2000 an, cukup asyik untuk sekedar bernostalgia dengan menonton film baheula yang pada jamannya sudah merupakan film yang tinggi teknologi pebuatannya
Di salah satu episode Film Superman tersebut Lois Lane sang wartawati Daily Planet menulis “Why the world doesn’t need Superman” yang memenangkan anugerah Pulitzer, Didalam artikelnya tersebut kira kira dia akan menulis antara lain ; bahwa Super Hero seperti Superman membuat kita melupakan the real Hero seperti guru, pemadam kebakaran, aktivis lingkungan atau yang lainnya.
Judul artikel Lois Lane itu cukup menggelitik saya untuk menulis posting ini (untuk kedua kalinya, beberapa tahun yang lalu juga pernah saya mengangkat topik ini).
Dalam kehidupan kita sekarang ini, dilingkungan kita sendiri (lingkungan pekerjaan, bertetangga, bernegara),.. cukup relevan untuk pertanyakan “ do we need SUPERMAN ?”.
Saya pikir kita tidak lagi membutuhkan SUPERMAN.
Yang kita butuhkan adalah SUPER TEAM, menciptakan SUPER TEAM akan lebih bermanfaat daripada memilih SUPERMAN atau beberapa SUPERMAN, SUPERTEAM akan mampu menciptakan achievement yang lebih baik dan lebih cepat karena chemistry nya sudah klop lingkungan yang terbentuk pasti hangat dan dinamis, penuh dengan trust dan saling mengisi kekurangan dan saling peduli.
Saya juga pernah membaca artikelnya Eileen Rachman & Sylvina Savitri di Harian Kompas bertajuk “ Inteligensi Kolektif”.
Inteligensi kolektif seringkali sulit terwujud, kinerja team yang beranggotakan orang orang Super (para SUPERMAN), seringkali berjalan tidak lancar mungkin karena sindroma too many brains, masalah egoism pribadi atau diantara para SUPERMAN tadi mempunyai masalah dalam hubungan interpersonal mereka (punya sejarah konflik).
Di artikel itu dikatakan bahwa dari suatu penelitian ditemukan fakta bahwa “kekuatan” yang dihasilkan kelompok lebih dipengaruhi oleh factor “CARE” atau kepedulian. Dengan individu individu yang berprestasi, dialog/komunikasi satu sama lain adalah sangat penting baik formal atau non formal. Perlu keterbukaan yang “GENUINE”.
He.. he. coba tengok sekeliling anda, saya percaya SUPERTEAM lebih diperlukan dari pada SUPERMAN atau sekumpulan SUPERMAN yang tidak punya rasa care.
“ People don’t care how much you know until they know how much you care” demikian kata John Maxwell .
Membentuk SUPERTEAM nggak gampang lho… karena para individualis yang egois pasti nggak suka akan hal itu.
We don’t need SUPERMAN.. we just need SUPERTEAM ... ..SUPERMAN is definitely dead.
posted by
Mind Transportation
at
Kamis, Juni 23, 2011
3
comments
Label: documentation, opinion
Rabu, 27 Januari 2010
The Truth, all the Truth, and nothing but the truth
Unsur Trust semakin dirasakan perlu terbentuk (ataupun dibentuk) pada Bangsa ini. Unsur ini merupakan hasil dari tata nilai yang bernama Integrity yaitu cinta dan setia kepada kebenaran (jangan dibaca ‘kebetulan” ya..), untuk menjadi setia dan cinta kepada kebenaran tidak hanya dibentuk oleh nilai religius saja, ada hal lain yang diperlukan dalam mencampur adonan Integrity dan yang kemudian bermuara kepada Trust, ada bangsa yang minim nilai religi tetapi sangat baik lingkungan integritasnya dan juga sebaliknya.
Yang sering dijadikan ukuran kadar ‘trust’ antara lain adalah sering atau tidaknya kebohongan terjadi.
Beberapa waktu yang lalu saya punya tulisan mengenai teknologi apa yang paling diperlukan oleh Bangsa Indonesia pada masa sekarang ini.Bukan mesin pengganda uang, atau alat pencari deposit minyak, atau alat pencitraan satelit mengenai kekayaan laut di Indonesia.
Yang sangat kita butuhkan saat ini adalah Mesin pendeteksi Kebohongan, “Lie Detector”.
Secara teknis “Lie Detector” mempunyai kemampuan untuk menganalisa antara lain; blood pressure, breath rate pulse, perspiration, arm and leg movement dan lain sebagainya untuk kemudian disimpulkan sebagai BOHONG atau TIDAK BOHONG. Jawabannya semudah YA atau TIDAK, jadi nggak ada yang jawabnya “BOHONG akan tetapi”... atau “TIDAK BOHONG akan tetapi...”
Nah kalau sekarang ini yang kita lihat sehari hari dibelantara kejadian dinegeri ini jawaban selalu tersembunyi dibalik kepentingan-kepentingan tertentu, YA atau TIDAK seringkali ditentukan dari banyaknya/kuatnya suara kepentingan tersebut. Dan secara horizontal masyarakat akan terbelah (tanpa alasan atau integritas). Nilai yang dianut adalah: “musuhnya temenku harus jadi musuhku juga”, atau” temennya temenku pasti juga adalah temenku” dan seterusnya.Polarisasi yang terbentuk tanpa hitungan atau alasan yang baik, tetapi berdasarkan hitung hitungan jumlah suara/massa.
Kembali ke alat ini, coba kita bayangkan berapa banyak efisiensi yang bisa kita lakukan kalau kita mempunyai “Lie Detector” yang canggih. Maka menurut saya Pembuatan Lie Detector yang canggih harus menjadi program unggulan untuk bangsa ini, sehingga pembacaan sumpah : “ I will tell you the truth, all the truth and nothing but the truth..” tidak lagi menjadi penting.
posted by
Mind Transportation
at
Rabu, Januari 27, 2010
2
comments
Sabda Pandita Ratu
Waktu saya masih kecil ketika sedang liburan kesuatu daerah (kota) yang kebetulan mempunyai alun alun, oleh orang tua saya diceritakan bahwa konon pada jaman dahulu apabila ada masyarakat jelata atau seseorang yang merasa tertindas, atau merasa diperlakukan tidak adil, atau punya uneg uneg yang ingin disampaikan ke penguasa tertinggi (Raja, Bupati, Residen), maka rakyat jelata tersebut bisa melakukan tapa Pepe , yang arti harfiahnya menjemurkan diri dipanasnya matahari alun alun.Biasanya kemudian sang Pimpinan kekuasaan akan memanggil yang bersangkutan untuk ditanya apa yang jadi sebab tapa Pepe tersebut dilakukan, setelah itu kemudian masalah atau persoalan akan diputuskan oleh sang bijak untuk diimplementasikan.
Tidak perlu ratusan atau ribuan orang yang melakukan Pepe, hanya satu orang saja sudah cukup untuk mendapat respon dari sang Pemimpin kekuasaan.Dan konon kata cerita, bahwa tindak lanjut implementasinya betul betul dilakukan dan dilakukan dengan betul, sang Pemimpin pegang janji (Sabda Pandita Ratu), satu masalah pun menjadi ‘solved’. Tidak ada jawaban yang ‘ulas-ulas’ saja (hanya dibibir saja) dari Sang Pemimpin.
Konon ber abad kemudian, ditanah yang sama di negeri ini, hal seperti ini juga terjadi, meskipun tidak dengan cara Pepe.Hanya kalau dulu implementasi pemecahan masalahnya pada umumnya workable dan dilakukan dengan baik. Sehingga tingkat kepercayaan bahwa masalah dapat diselesaikan adalah sangat tinggi.
Nah kalau saat ini; apabila kata sudah dititahkan, kemudian pembahasan sudah di’rembug’kan maka seolah olah masalahnya sudah ‘solved’.
Hal semacam ini (maksud saya kalau sudah dirembug secara luas dan melibatkan semua unsur terkait maka dianggap masalah sudah ‘solved’) ; ini terjadi diorganisasi manapun dalam tingkat apapun.
Kalau ada masalah atau risiko asal sudah pernah dirembug, bikin Tim ini bikin Tim itu, rapat koordinasi ini dan itu, nah masalah atau risiko sudah tertangani dan pasti sudah cukup penanganannya, tapi ternyata semua nggak menjawab permasalahan. Dan ini dimuka masyarakat (atau anggota organisasi) sepertinya “sudah dilakukan sesuatu” , everything is under controled, ini yang saya sebut ‘ulas-ulas’ saja (pokoknya sudah dibahas gitu looh..), inipun dilakukan ditengah ‘kepercayaan’ telah menjadi barang yang langka dalam kehidupan bermasyarakat. Jawabannya secara akuntabilitas sangat mudah;” Lho kan sudah dirembug.. kan sudah dibentuk Tim ini dan itu..” just as simple as that.
Ini bukan hanya ada di tataran Pemerintahan atau Organisasi Negara, coba tengok kiri dan kanan anda, di organisasi dimana anda berada misalnya...
Well what do you think about this folks..
posted by
Mind Transportation
at
Rabu, Januari 27, 2010
3
comments
Selasa, 13 Oktober 2009
HOMO GLOBULUS 2
Tepat setahun yang lalu saya pernah posting bertajuk Homo Globulus, waktu itu saya melihat bahwa ternyata efek global sangat terasa pada kondisi perekonomian kita (financial crisis di Amerika pengaruhnya secara langsung dan ‘seketika’ dapat dirasakan di negeri ini). Betapa efek global itu dapat kita rasakan (manfaat maupun mudaratnya) dengan serta merta.
Selain Homo Ludens kita sekarang juga menjadi Homo Globulus, ‘semua’ bisa berkomunikasi dengan ‘semua’, ‘semua’ bisa menjadi bagian dari ‘semua’ , mau tidak mau suka atau tidak suka kita menjadi mahluk yang sangat terpengaruh dan dapat berpengaruh didalam efek global.Setahun yang lalu mungkin pengguna Facebook di Indonesia masih separuh dari hari ini, inilah betapa kita memang Homo Ludens dan sekaligus Homo Globulus , semua ingin informasi dari semua,dan semua ingin memberi informasi tentang diri masing masing, bukan main... the power of information.
posted by
Mind Transportation
at
Selasa, Oktober 13, 2009
0
comments
Kamis, 16 April 2009
Binari dan Pemilu
Dalam kurun waktu 5 tahun kita yang tinggal di Jakarta, paling tidak kita ikut 3 kali Pemilihan ; Pil Gub, Pil Leg, dan Pil Pres.
Pada saat ituah orang bilang, kita “Memberikan Suara” kita didalam Pemilu.
Nah saya kok agak sependapat dengan apa yang dikatakan Gunawan Muhammad di Catatan Pinggirnya TEMPO ;”.. setelah kita mencontreng (atau mencoblos..jaman sebelumnya), maka saat itu pulalah kita mengubah diri kita menjadi satu “1” satuan numerik..” demikian katanya.
Memang sejak saat itu Keterwakilan kita dalam berpikir, ber’suara’ mengemukakan pendapat, dan bertindak berubah menjadi satu satuan numerik untuk memilih orang atau Partai tertentu yang nota bene tidak terlalu kita kenal baik secara kasat ataupun secara emosional dengan mendalam (kecuali kalau memang dia itu saudara/teman/tetangga kita), begitu juga dengan Partai (yang kantornya saja sibuknya cuma kalau mau Pemilu).
Bukankah ini ambiguiti ya ? katanya kita memberikan suara tapi kok malah berubah menjadi numerik.. he he. Mendingan posting di Blog kan ? bebas berpikir dan “bersuara” mengemukakan pendapat yang norak sekalipun.
Nah demikian pula sebaliknya, kalau gak ikutan memilukan diri berarti kita berubah jadi Nihil alias “0” secara legal kita menjadi tiada, baik yang disengaja atau yang tidak terdaftar di DPT yang diributkan itu.
Jadi ya begitu, dalam sekejap 171 juta orang Indonesia yang punya hak suara menjadi deretan bilangan Binari.. 1 dan 0 .. dan sekaligus saat itu juga kita “kehilangan” suara kita yang asli untuk diwakilkan ke pada seseorang atau sesuatu yang (rata-rata) tidak kita kenal betul.
Ngomong ngomong mengenai bilangan Binari saya jadi ingat cara kerja komputer ( menggunakan bahasa Binari ). Kalau saja Bill Gates si Raja Komputer dan Raja uang itu kita sewa untuk membantu kita jadi anggota KPU, pasti deh masalah kerumitan kerja yang sekarang muncul seperti administrasi DPT atau komunikasi data untuk tabulasi, tidak akan terjadi.
Atau mungkin dia malah berkata :” aneh ya … hardware dan software yang umum dipakai didunia kok kalau dipakai di sini jadi Lemoooot..? karena iklim atau orangnya ya ?”
posted by
Mind Transportation
at
Kamis, April 16, 2009
0
comments
Senin, 09 Februari 2009
Tidak Mencalonkan Diri
Saya mengundurkan diri dari Pencalonan Kepala Kampung tahun ini. Tadinya saya pikir akan menjadi prioritas penting untuk menjadi ‘orang penting’ di Kampung ini, seperti kata banyak orang bahwa hidup ini harus bermanfaat bagi masyarakat dan saya rasa itu menjadi motivasi besar dan cukup menjadi alasan untuk mencalonkan diri.
Tapi itu adalah beberapa waktu yang lalu.
Setelah melihat kenyataan bahwa virus democrazy menjadi tidak terkenali lagi didalam kehidupan sosial dan politik Kampung saya, nggak jelas lagi makna dan tujuannya, penuh intrik, licik dan mungkin klenik (yang jelas berbiaya selangit, silahkan disurvey beberapa banyak uang bertebaran didalam acara pemilihan).
Terlebih setelah disadarkan bahwa bangsa ini memang di ’stereotype’ kan sebagai bangsa yang senang main “trabas”, menginginkan segala sesuatunya secara instan (ini menurut Pak Koentjorojakti yang antropolog). Politik kekerasan sudah banyak jejak rekamnya, budaya keroyokan sudah menjadi pelajaran ekskul di sekolah sekolah; pukul memukul di Perguruan Tinggi, dilapangan olahraga bahkan diruang wakil rakyat yang terhormat.
Karena alasan itu semua, “…dengan ini saya nyatakan .. mengundurkan diri dari pencalonan Kepala Kampung”.
Selanjutnya saya mau bertafakur dan berdoa agar bangsa ini mendapat pelajaran yang terbaik dari apa yang dinamakan Demokrasi, dan semoga tidak banyak korban nyawa, korban harta dan korban kewarasan dalam menjalankannya.
Saya juga berharap agar masyarakat menyadari bahwa pilar tegaknya demokrasi antara lain adalah tingginya moral attitude bangsa ini serta level pendidikan yang cukup bagi masyarakatnya.
(Gilee, Ge Er banget emang siapa juga yang mau milih gue….?)
posted by
Mind Transportation
at
Senin, Februari 09, 2009
5
comments
Jumat, 09 Januari 2009
Jam 06.30 tepat
Bila ingin tahu arti waktu 1 tahun,
Tanyakan kepada pelajar yang tidak naik kelas
Bila ingin tahu arti waktu 9 bulan,
Tanyakan pada seorang Ibu yang baru melahirkan
Bila ingin tahu arti waktu 1 menit,
Tanyakan pada orang yang tertinggal penerbangan SQ terakhir
Bila ingin tahu arti waktu 0,1 detik
Tanyakan pada Felippe Massa di Sirkuit Brasil 2008
Tapi bila……. ingin tahu arti waktu 30 menit,
Tanyakan pada pejabat Pemda DKI Jakarta yang mengubah jam masuk sekolah di Jakarta….
Saya sebagai salah satu waktu warga DKI agak kurang mafhum dengan hitung hitungan penanggulangan kemacetan dengan cara tersebut. Mungkin karena memang belum pernah disosialisasikan mengenai metodologi analisisnya, atau karena saya kurang menyimak penjelasan para pemangku policy Ibukota ini.
Menurut saya beberapa alternatif solusi penanggulangan kemacetan yang pernah dimulai dapat diteruskan dengan konsisten. Pernah dalam beberapa posting terdahulu saya mengutarakan bahwa telah banyak dilakukan kajian, analisis, dan tahapan perencanaan lainnya hasil dari berbagai ahli/konsultan yang berkaitan dengan sistem transportasi perkotaan khususnya Jakarta. Intinya pertama adalah traffic demand management dan keduanya adalah reliable dan desirable public transport di kota ini. Coba kita perhatikan perencanaan yang tidak sempurna dan pelaksanaan yang kurang konsisten ;
> Lajur Busway (high occupancy vehicle lane) adalah ide yang lumayan, tapi pelaksanaannya jauh dari sempurna, contohnya; jalannya (busway) sudah jadi (dengan pengorbanan luar biasa dari publik) tapi armada bisnya masih kurang atau bahkan di beberapa koridor belum ada armadanya/ belum dioperasikan.
> Jalur monorel juga proyeknya mangkrak, apalagi subway pasti lebih berat lagi
> Malah ada rencana untuk memasivekan proyek jalan raya (ada 6 jalan tol baru..?), yang dulu mungkin diharapkan massive developmentnya untuk railway transportation (public transport)
Kembali ke masalah pemajuan jam masuk sekolah, ingin sekali kita mengetahui profil pengguna jalan untuk kepentingan pergi pulang sekolah.
Dari seluruh anak yang bersekolah, berapa persen yang menggunakan kendaraan bermotor.
Dari yang menggunakan kendaraan bermotor, berapa persen yang menggunakan kendaraan mobil pribadi .
Dari yang menggunakan mobil pribadi, berapa persen yang tidak bareng dengan orang tuanya pada waktu berangkat dari rumah (mobil yang berbeda dengan mobil orang tuanya yang pergi kekantor)
Hal tersebut di atas akan berarti dalam melihat apakah ada perubahan jumlah trip (perjalanan), dan kemudian apakah pengurangan kemacetan cukup sensitif dengan perubahan 30 menit tersebut. Jangan jangan perubahan yang cukup berarti baru terjadi kalau masuk sekolahnya jam 5 pagi !!!
Jam kerja kantor swasta mau diubah menurut wilayahnya?? Bagaimana mengontrolnya ?, juga bagaimana analisis hitungannya ?. Saya ingat waktu pertama kali diberlakukannya 3 in 1 di Sudirman Thamrin, dengan mudah dan tidak terduga langsung tidak optimal gara gara munculnya Joki
Coba dulu deh benahi public transport dengan fokus dan telaten. Mungkin biayanya investasinya memang besar, tapi benefitnya layak diperhitungkan
posted by
Mind Transportation
at
Jumat, Januari 09, 2009
4
comments
Label: opinion, profession
Selasa, 06 Januari 2009
Are You Modern ?
Modern oleh banyak orang sering diartikan segala sesuatu yang berciri ke kinian, serba up to date. Sedangkan lawan katanya adalah tradisional, kuno atau kelembaman (mungkin looh.. saya Cuma kira kira saja).
Lebih baik mana, Modern atau Tradisional (kuno) ?, jawabannya bisa relatif, tapi kalau pertanyaannya lebih baru mana, ya sudah pasti lebih baru Modern.
Modern sangat didukung oleh tingkat budaya (hasil olah pikir manusia), Hardware (H), Software (S) yang dirumuskan melalui Brainware (B).
Tapi apakah H S B saja cukup untuk menjadikan kita Modern ?, ternyata menurut saya masih belum. Dasar utama untuk menjadi “Modern yang baik” adalah Perilaku (Attitude) dari manusianya.
H,S dan B bisa dibeli kalau kita kaya, tapi Attitude (A) tidak bisa , A harus ditempa, dibentuk dan dipelihara dengan upaya yang cukup.
Saya nggak ingin menyebutkan contoh, tapi lihat saja dari sejarah perjalanan hidup manusia ; banyak tingkat budaya yang sangat maju telah dicapai oleh suatu bangsa (kaum) tetapi sekarang sudah hilang musnah.
Dan juga kebalikannya contoh adanya suatu bangsa yang dulu belum maju ( belum modern) pada jamannya tetapi sekarang menjadi termaju di dunia.
Rahasianya adalah bagaimana menempa, membentuk dan memelihara Attitude (A).
Modern bisa digabung dengan tradisional ?
Bisa saja, Modern diambil kasat matanya dan fungsionalitinya, Tradisional diambil spiritnya, valuenya.
Ada cerita, waktu itu saya sempat ikut gerak jalan di suatu hari Minggu di Jakarta.
Ingat nama Sarinah......?, nama yang diberikan oleh Bung Karno untuk wanita Indonesia yang berjuang untuk bangsanya.
Nama itu terasa sangat ‘mewakili ke-Indonesiaan kita”, yang terbayang tentunya wanita Indonesia berkonde yang meskipun memakai kain, tetap gesit dan cerdas dalam beraktifitas.
Tapi itu duluuu...., sekarang visualisasinya seperti pada foto di halte Bus Transjakarta gedung Sarinah jalan Thamrin. Wanita Indonesia menjadi Cosmo Girl, Born to Lead.. Nggak apa, yang penting spiritnya value tradisionalnya tetap bernama SARINAH.
OK deh, dengan sepenggal lagu Halo Halo Bandung... kita nyanyikan“..Mari Bung Kita Modern”
posted by
Mind Transportation
at
Selasa, Januari 06, 2009
0
comments
Label: documentation, opinion
Rabu, 05 November 2008
OBAMMA MIA....
Lagi musimnya Pemilihan, semua dikaitkan dengan election, vote, pilkada, pemilu.
Pilkada disana sini dinegeri ini, dan Pemilu di USA.
Pemilihan di negara embahnya Demokrasi (katanya) paling ditunggu hasilnya, dari pengamat politik, pengamat ekonomi, sampai sampai mungkin bebotoh perjudian semua mengikuti beritanya, ikut memberi komentar ikut merasa memiliki Vote 2008 di Amrik sana.
Barrack Obama Calon Presiden yang mengusung issue CHANGE menghangatkan "Obamania" yang terjadi di mana mana bahkan di luar USA sekalipun.
Nah ternyata siang ini (WIB) Obama dipastikan menjadi elected President. He will be the 44th, and the first black President in the country.
Pada pidato pertamanya dia bilang bahwa dinegaranya yang Demokrasi, segalanya mungkin terjadi.
Apakah memang USA adalah eyangnya Demokrasi di dunia ?.
Setahu saya dari 43 Presiden yang memimpin bangsa itu, belum pernah ada wanita yang menjadi Presiden.
Dinegara lain sudah banyak yang berpengalaman memiliki Kepala Pemerintahan wanita bahkan di negara yang “dianggap” developing countries dan tidak demokratis pernah memiliki Kepala Pemerintahan wanita (Indonesia, Pakistan, India, Srilanka dsb.).
Disini ada quota 30 % untuk Caleg wanita, disana ada gak ya ? dan kalau saya gak keliru , di Amerika hak pilih untuk wanita disyahkan di tahun 1920.
Cara Pemilihannya juga pakai azas electoral votes di negara bagian masing masing. Masih mendingan di kita yang setiap satu suara dihitung langsung.
Bahkan di Indonesia kita pernah memiliki Presiden yang sangat kurang indera penglihatannya.
OK lah saya bukan politikus, gak tahu mana yang lebih demokrasi, yang jelas Obama punya hubungan tersendiri dengan Indonesia karena dia pernah “jadi orang Indonesia", bersekolah di Indonesia.
Saya jadi bangga dan semakin percaya dengan sistem pendidikan di Indonesia. Obama baru sekolah 4 tahun saja (Sekolah Dasar belum tamat ) di Indonesia sudah bisa jadi Presiden Amerika, apalagi kalau sekolahnya sampai S1 atau S2 di Indonesia yaaa?...he..he
Selamat deh untuk Barry .... OOBAMMA MIA
posted by
Mind Transportation
at
Rabu, November 05, 2008
2
comments
Senin, 03 November 2008
Komentar Tol
Selagi saya di Surabaya setelah melihat ke Porong dan Gempol saya kembali ke arah Surabaya.
Berhenti sejenak di Tempat Istirahat di Km 25 (saya kira tempat istirahat ini baru dan belum di buka secara keseluruhan), saya melihat rambu mengenai salah satu pelayanan di tempat istirahat itu. Maksudnya ada tempat mandi air dingin dan air hangat, tapi nggak tahu deh apa maksudnya mandinya boleh bercampur Women dan Men seperti di gambar rambu tersebut.
Dari tempat istirahat kemudian perjalanan di teruskan ke arah Surabaya menuju Bandara Juanda. Naaah sempat melewati Jalan Tol dari Waru ke Bandara Juanda yang juga masih baru kinyis kinyis.Nah lo, di jalan tol yang dibangun trilyunan Rupiah itu saya sempat mengabadikan “kekosongan” prasarana tersebut. Laah lantas prasarana sebagus indah, dan mahal itu kita bangun untuk siapa yaaa?. Level of Utility nya rendah banget, atau salah prediksi kah ?
Jalan Tol Waru Bandara Juanda
posted by
Mind Transportation
at
Senin, November 03, 2008
0
comments
Label: documentation, opinion
Kamis, 30 Oktober 2008
Pemudi Pemuda
Tanggal 28 Oktober tahun ini kita memperingati Hari Soempah Pemoeda yang ke 80 tahun. Di kantor, peringatan ini dilalui dengan upacara pengibaran Bendera. Upacara yang standar itu salah satu themanya kalau nggak keliru adalah untuk memotivasi kita semua anak bangsa menjadi manusia berpredikat Nasionalis Religius (wah kok kaya platform Partai yaa..) yang dapat meneruskan cita cita para pendahulu Bangsa.
Meskipun agak gerimis, Upacara berjalan lancar akan tetapi nyaris Nir-makna bagi saya sampai kemudian diperdengarkan lagu “Bangun Pemudi Pemuda”. Saya coba untuk mengingat lirik dari lagu tersebut yang pertama kali diajarkan pada waktu saya di bangku SMP, dan kemudian saya mencoba menyimaknya lebih dalam lagi
Bagian I
Bangun pemudi pemuda Indonesia
Tangan bajumu singsingkan untuk negara
Masa yang akan datang kewajibanmu lah
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Bagian II
Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas
Tak usah banyak bicara trus kerja keras
Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih
Bertingkah laku halus hai putra negri
Bertingkah laku halus hai putra negri
Coba perhatikan Bagian Keduanya;
Betapa luhurnya karakter dari Pemudi dan Pemuda Indonesia yang diharapkan oleh penulis lagu ini (dan tentu kita semua bangsa Indonesia), seandainya kita bisa menjadi 50 % saja dari seluruh kata sifat di Bagian Kedua Lirik Lagu ini ….. sudah tuoop Markotop.
Coba aja .. ‘Bertingkah laku halus…’ hareee geneee… susah dicarinya daah
Komposer lagu ini adalah A. Simanjuntak yang berusia 23 tahun waktu dia menciptakan lagu ini di tahun 1943.Pada waktu itu beliau menjadi Guru Sekolah Rakyat di Semarang.
Two thumbs UP.. untuk beliau, lagunya membuat Upacara hari ini berarti untuk saya.
posted by
Mind Transportation
at
Kamis, Oktober 30, 2008
3
comments
Label: documentation, opinion, people
Senin, 27 Oktober 2008
Blogger's day
Pagi hari dari stasiun TV lokal saya dapet informasi bahwa hari ini adalah Hari Blogger Nasional. Hari ini memperingati acara temu Blogger di tanggal yang sama tahun 2007 yang lalu. Wah Blogger aja pake hari Nasional, bagaimana menurut khalayak ?, perlu nggak sih ?
Sampai saat ini konon katanya jumlah Blogger di Indonesia mencapai 600 ribu orang, ya kalau rata rata memiliki 2 Blog berarti jumlah blog di Indonesia mencapai 1,2 juta Blog. Belum tahu tuh komposisi jenis Blog di Indonesia, berapa persen yang buat nyari rejeki, berapa persen yang mengeluarkan pendapat pendapat murni, berapa persen yang Narsis murni dan berapa persen yang cut & paste saja.
Tetapi seberapa pentingnya angka komposisi tadi, nggak usah dipikirin ?, atau memang perlu di survey untuk melihat seberapa besar Blog dapat “memberi kontribusi positif terhadap masyarakat..” (seperti kata Saudara Menteri Kominfo beberapa waktu yang lalu).
Pesta Blogger 2008 akan diselenggarakan pada tanggal 22 November 2008 ini di Jakarta (saya juga pasang Banner untuk itu), ini semata karena saya mengaharapkan sarana Blog dapat mencerdaskan kita semua, meskipun ada pro kontra mengenai adanya sponsor dari Dept. Of State nya Amerika (lihat disini, ndoro kakung, Sang ketua pelaksana).
Kalau saya sendiri, Blogging saya posisikan sebagai tempat saya membuat opini, bercerita mengenai isi kepala saya (Mind) dan dokumentasi personal yang dapat saya salurkan (Transported) dan wariskan kepada semua orang terdekat saya, khususnya anak keturunan saya, maka dengan itu judul blog saya Mind Transportation begituu.
Bagaimana dengan anda ?, apa yang menurut anda sangat essensial dalam blogging?.
posted by
Mind Transportation
at
Senin, Oktober 27, 2008
1 comments
Label: documentation, news, opinion
Minggu, 05 Oktober 2008
Transportasi yang Beradab
Kamis 2 Oktober yang lalu saya sempat lihat sepintas acara di Metro TV , Kabaret nya Butet Kertarajasa. Apa yang dikatakannya didalam suatu monolognya bukanlah hal yang lucu, tapi sebaliknya bitter banget, pedes menonjok kerongkongan dan membuat kita jadi menyadari betapa mengesalkannya kondisi yang kita hadapi… Topiknya…Mudik.
Sudah berapa tahun sih kita berpengalaman dengan “ritual” Mudik ?, sudah puluhan tahun kebelakang kan..?, dan tentunya juga berpuluh tahun kedepan. Tapi kenapa kok setiap tahunnya baru di hari H–10 transportasi (khususnya prasarana transportasi jalan raya) siap menampung pemudik.
Dan yang lebih nelongso lagi, coba dipikirkan dan dirasakan, apakah prasarana dan sarana transportasi hanya dibuat (atau diperhatikan) hanya untuk “para pemudik” dan pada saat “mudik” saja ?, lantas dimana hak masyarakat lainnya pada saat tidak sedang suasana mudik ?, sah saja untuk terabaikan ?. Untuk apa ada ribuan insinyur dan ahli jalan di Indonesia ini ? , ngapain aja sejak H+1 sampai ke H–10 tahun depannya ?
Dalam monolog mengenai Transportasi yang Beradab tersebut, Butet antara lain menyoal tiga hal mengenai hak publik :
Pertama mengenai Kemudahan, kedua keadilan sosial, ketiga mengenai Lingkungan hidup.
Boro boro mikirin mengenai Keadilan sosial (untuk melayani para pini sepuh atau yang cacat) dan memperhatikan Lingkungan hidup (pada saat pembangunan dan pengoperasiannya), untuk menangani masalah Kemudahan saja masih harus nunggu H–10 atau mesti ada korban dulu seorang Sophan Sophian baru prasarana di perbaiki. Kenapa sih kita nggak pernah belajar ?, gregetan nggak?
posted by
Mind Transportation
at
Minggu, Oktober 05, 2008
3
comments
Label: opinion, people, profession
Sabtu, 27 September 2008
So Hot
Saya membayangkan kalau Indonesia bisa menciptakan suatu alat yang dapat mengukur SPI ( bukan Satuan Pengawasan Intern, tetapi : Standar Pedas Indonesia).
Ya, bagaimana kalau kita bisa mempunyai lidah (atau mungkin rongga mulut) artificial yang dapat mengukur derajat “kePedasan” suatu unsur yang masuk kedalam mulut ?.
Kalau alat pengukur SPI (Standar Pedas Indonesia) tersebut sudah dapat di buat, dapat dibayangkan kegunaannya untuk kita :
Akan memudahkan kita kalau sedang memesan makanan ( sering kita memesan gado gado ditanya ; pedas atau sedang tanpa ukuran yang jelas). Turis asing juga nggak akan kecele dengan pernyataan si tukang masak.
Akan lebih mudah membuat masakan Indonesia Go Internasional, karena standar pedas (spicy) sudah dapat diukur.
Variasi pedas juga sebisanya dapat di kategorikan dari sumber pedasnya : cabai merah, rawit, hijau, merica atau kombinasi.
Pernyataan saya ini tentunya bisa dianggap bercanda, tapi coba direnungkan deh, pasti banyak manfaatnya.
Suatu kali nanti saya bisa makan ketoprak Ciragil sambil bilang : “ Bu minta ketoprak 2 porsi, pedasnya 3 SPI yaaa..”
posted by
Mind Transportation
at
Sabtu, September 27, 2008
5
comments
Selasa, 16 September 2008
So I’ve told you
Baru beberapa waktu saya posting (so embarrassing ), eeeeh ..kemarin tanggal 15 September 2008, Majalah berita mingguan TEMPO menurunkan berita bertopik “Pesta Cek di Senayan”, mengaku sajalah… demikian pokok beritanya.
Bener kan kalau saja kita punya alat yang canggih itu, nggak perlu berlama lama untuk saling tuduh dan saling memungkiri mumpung bulan Ramadhan niih .. bulan yang penuh ampunan.
Saya tetap berharap ada ahli fisika, dan ahli psikologi atau ahli lainnya yang dapat menemukan peralatan "lie detector" yang andal tersebut
posted by
Mind Transportation
at
Selasa, September 16, 2008
0
comments
Kamis, 11 September 2008
So embarrassing
Kuncung : Wuk peralatan atau mesin apa yang saat ini paling dibutuhkan oleh Republik ini ?
Bawuk : Wah apa yaaa..?, apa bukan mesin pencari deposit minyak bumi ?
Kuncung : Bukan Wuk, juga bukan traktor bukan mesin pembuat uang. Tidak lain tidak bukan adalah ”Lie detector” alias alat deteksi kebohongan.
Bukan yang seperti Lie detector yang model sekarang, tapi yang benar benar andal, sedemikian andal sehingga dapat merekam memori, dan keinginan didalam pikiran manusia.
Manusia sudah bisa buat mesin kebulan, bisa buat alat kedokteran canggih seperti MRI, bisa meneliti bahwa jenasah di kebun belakang rumah Ryan adalah jenasah Asrori, tapi mosok mbuat ”lie detector” yang ampuh kok belum bisa yaa.
Bawuk : Laah bakal apaan Lie Detector yang canggih ?
Kuncung : Gini ya, saya sudah bosan ngeliat pejabat pejabat, baik executive, legislative dan judicative yang diduga, disangka, diperiksa, didakwa, diadili karena korupsi, tapi toh penjara kita masih sedikit berisi narapidana kasus korupsi. Dan saya yakin deh banyak lagi kasus kasus yang tidak terungkap.Belum lagi masalah blue energy atau super toy.
Bawuk : terus gimana maksudnya ?
Kuncung : Ya kalau sudah ada Lie Detector yang huebat maka semua maling, penjahat, koruptor kan akan cepat terproses, bahkan sebelum bertindak kejahatan, karena alat tersebut bisa “membaca” pikiran kita.
Bawuk : waaah hebat, bener juga pendapatmu Cung. Saya jadi inget filmnya Arnold Swarzeneger Total Recall, orang bisa di ‘scan’ isi otaknya, dan itu sepertinya mungkan mungkin saja ya suatu saat.
Kuncung : yaaa, bener kan seandainya saja kita bisa bikin alat tersebut, maka angka korupsi di negeri ini akan zero deh nggak so embarrassing seperti sekarang ini. Tiap hari di Koran isinya orang saling bantah dan saling tuduh untuk hal hal yang sangat memuakkan sementara orangnya nggak mau ngaku.
posted by
Mind Transportation
at
Kamis, September 11, 2008
0
comments
Rabu, 10 September 2008
So vary
Ada seorang pemimpin Parpol di Indonesia bilang “hidup adalah perbuatan..” jadi menurutnya ciri ciri kehidupan adalah kalau ada perbuatan (bener nggak ya .. maksud dia seperti itu).
Kalau saya agak beda, saat ini menurut saya ; “Hidup adalah perubahan”, setiap detik dari kehidupan kita adalah perubahan (paling tidak ada beberapa ribu sel kita mati atau tumbuh, dan juga seiring usia kita berubah, detik demi detik, menit ke menit dst). Di alam kematian “sepertinya” tidak ada perubahan yang saya sebutkan tadi.
Forrest Gump (dalam film Forrest Gump) berkata :” life is like a box of chocolate …. You never know what‘s in it”. Variasi dalam kehidupan terus berjalan, baik yang tertata, terprediksi atapun tidak (surprise). Variasi (baca ‘perubahan’) dalam hidup sangat luas, dan terjadi pada setiap peran yang kita lakoni dalam kehidupan ini (peran di keluarga, di lingkungan, di kantor , dan lain lain).
Saya baru saja mengalaminya, pindah/berubah dari suatu posisi pekerjaan dan tanggung jawab, berubah dari disiplin pengetahuan yang saya miliki, dari eksekutor menjadi kontroler ;…so many surprising things come up to my mind in sudden , tapi saya bersyukur padaNya dengan nikmat variasi yang diberikan kepada saya, hal hal baru didalam hidup kita akan membuat kita lebih “hidup”.
Hidup adalah perubahan, hidup adalah konsekwensi bahwa kita tidak berpredikat mati dan pada akhirnya….
Hidup adalah pengendalian diri , bagaimana kita menjaga untuk dapat mencapai tujuan agar dapat mati dalm keadaan khusnul chotimah.
posted by
Mind Transportation
at
Rabu, September 10, 2008
1 comments
Selasa, 09 September 2008
So Full
Pernah mudik Lebaran? Saya memang kebetulan belum pernah, hanya saja setiap tahun (khususnya di bulan Ramadhan dan Syawal), hal inilah yang menjadi ’bahan cerita’ kalau sedang berbincang dengan sanak saudara dan kerabat.
Tahun 2008 ini menurut pak Polisi, para Mudiker’s mencapai jumlah 16 juta orang di seluruh Indonesia yang berarti kenaikan sebesar 6 % an, nggak tahu gimana caranya menghitung tapi saya duga sebagian besar tentunya akan ke daerah daerah di pulau Jawa. Jalur transportasi yang paling populer tentu saja jalur Pantai Utara Jawa yang selalu saja menjadi topik setiap saat di seluruh jejaring informasi.
Dari data yang ada ternyata untuk DKI Jakarta saja sekarang ini tercatat ada 5,5 juta kendaraan bermotor yang merupakan kenaikan sebesar 300 % selama 4 tahun terakhir. Yang cukup menjadi perhatian dan keprihatinan kita semua adalah bahwa transportasi darat di jalur pantura, di beberapa tahun terakhir ini sangat disesaki oleh sepeda motor. Padahal kita tahu bahwa sepeda motor adalah alat transportasi perkotaan dan tidak disiapkan untuk menjadi alat angkut antar kota apalagi antar propinsi (kayak bis aja ya..), dan sedihnya 90 % kecelakaan di jalan raya pasti melibatkan sepeda motor..
Lantas mudik sebenarnya untuk apa/siapa yaa ?.
Setiap tahun selalu kita menyaksikan drama mengenai para mudiker’s di Televisi atau media lainnya. Beberapa teman saya selalu bilang ”. ..tentu saja kamu tidak pernah sih merasakan perlunya mudik (dan nikmatnya barangkali)...”.Wah sory memang belum pernah, tapi saya membayangkan para keluarga (Bapak Ibu dan anak anaknya) yang dengan effort luar biasa atas nama tradisi melakukan mudik, apakah sang Bapak atau Ibu pernah bertanya kepada anak anaknya pilihan untuk tidak ikut mudik ?. Jawaban anak anak bisa saja ”ogah aaah, macet, nggak enak, cape, bosen gitu gitu aja.. ”.terus ditambah lagi: ” paling paling Bapak/Ibu akan bercerita ...dulu waktu Bapak /Ibu kecil sekolahnya disitu ... dekat kantor kelurahan anu... kalau makan sering ke warung soto di pinggir kantor pos itu atau dulu kalau mancing di kali itu... dekat sana ada rumahnya pak Anu yang sekarang sudah jadi kepala desa Anu”, weleh bukannya ini sejenis egoisme orang tua !!, apalagi kalau si ortu senangnya pamer kepada warga ’udik’ tentang keberhasilannya di’kota’.
Lantas dimana hak anak untuk memilih pergi mudik atau nggak.
Tapi sudahlah nggak perlu dibantah bahwa tradisi tersebut ada, hanya saja yang selalu menjadi kekesalan adalah bahwa KESIAPAN Pemerintah didalam menyiapkan sarana dan prasarana mudik tidak pernah sempurna, kurang pengalaman apa sih wong selama berpuluh tahun tradisi ini telah ada. Selalu saja ada istilah ”kesiapan operasional di H-7 , H-3 , H+2” dan seterusnya .
Jembatan belum rampung, jalan masih bolong, gerbong kereta nggak cukup, calo karcis menggila, hal hal yang selalu saja terjadi, nggak pernahkah kita bisa merencanakan dengan baik ? (nilai 7 lah paling tidak).Ini benar benar menjadi strereotype ciri bangsa kita juga lho.
Hal lain yang saya pikir adalah bahwa (ini juga ciri bangsa ini), kemanapun bangsa ini pergi, pasti akan kembali lagi kekampung halamannya (rindu sanak saudara tidak bisa digantikan dengan chatting di internet atau kirim MMS).
Akan tetapi mudik bisa memutar ekonomi kita lebih baik (benar benar sektor riil). Coba bayangin kalau 16 juta orang menghabiskan : misalkan rata rata Rp. 100 ribu/ orang pada masa mudik lebaran, berarti Rp 1,6 trilliun rupiah beredar pada saat itu, bukan main kan. Wah pihak mana ya yang mendulang keuntungan dari Mudik ini, sektor transportasikah ? atau retail lainnya?.
OK selamat Mudik saudara sekalian, hati hati dijalan.
posted by
Mind Transportation
at
Selasa, September 09, 2008
1 comments


